Privilege dari Sudut Hidden View
Terbiasa aktif berkuliah sambil menjadi asisten praktikum, saat memasuki dunia kerja terbiasa menjalankan pekerjaan full dari Senin-Sabtu dari pagi-sore, karena saat itu masih boleh mengajar bercabang ke sekolah lain dengan catatan tidak bentrok, waktu dimampatkan tak sedikitpun ada celah kosong. Satu sekolah selain mengajar juga menjadi laboran serta pelatih pramuka, dan di sekolah lainnya selain menjadi kepala laboratorium juga menjadi pembina Hizbulwathan. Tidak ada jeda dalam sepekan, tidak ada henti dalam sepekan, semua waktu full bekerja di luar rumah.
Saat memutuskan berhenti kemudian menjadi ibu rumah tangga, tentunya aku temui perlakuan yang sangat amat kontras dari lingkungan sekitar terlebih lagi aku merantau. Sudahlah harus beradaptasi dengan gejolak diri sendiri, ditambah respon sekitar yang membawa luka baru bertubi-tubi terus menumpuk. Saat bekerja dulu, aku dihargai oleh murid-muridku, semua salim sapa “Bu Guru” masyarakat sekitar pun begitu menghargai keberadaanku. Sangat kontras sekali saat aku menjadi seorang ibu rumah tangga, ada yang bersikap merendahkanku, ada yang mengira aku lulusan SMA karena tidak bekerja hanya di rumah saja, dikira pembantu di rumah aja, disentak, dicibir, diomong dibelakang, direndahkan di depan umum, diremehkan di depan umum, dibully penampilan di depan umum saat nunggu anak ekskul, di bully tentang body shaming di depan umum oleh sesama ibu-ibu saat menunggu ekskul. Padahal aku dengan semua yang ada pada diriku dari dulu hingga sekarang tidak ada yang berubah. Aku yang dulu bekerja dengan aku yang sekarang menjadi ibu rumah tangga tidak ada yang berubah, tetaplah aku seperti ini, hanya jabatan yang tersemat pada diriku saja yang aku tanggalkan.
Memang beberapa orang hanya menghargai orang lain melalui jabatannya. Bahkan mulut yang tajam sinispun tak bisa aku kontrol. Namun sebenarnya nilai kualitas seseorang berasal dari bagaimana dia bertutur dan memperlakukan orang lain. Ucapan seseorang hanyalah menggambarkan bagaimana dirinya sendiri, bukan nilai kualitas aku, dan hidupku tidak akan terpengaruh apa-apa jika aku tidak memperdulikannya. Sayangnya aku yang baperan, memendam dalam hati, hanya diam saja, dikira akan berlalu malah jadi menumpuk. Tumpukan beban atan ucapan orang lain yang tidak bisa aku kendalikan telah membuat tubuhku hancur sendiri. Kini aku mengidap auto imun graves disease hyperthyroidsm. Terakhir sekali kemarin tanggal 11-08-2026 aku demam tinggi 41°C sampai 4 hari hingga tidak bisa duduk apalagi berdiri, rasanya seperti mau m4ti. Namun ini justru menjadi titik balikku mengembalikan jatidiriku sendiri kembali. Hidupku sangat singkat sekali, rugi sekali aku menjadi rusak sendiri karena ucapan orang lain. 4 hari aku demam, 4 hari rumah berantakan tak ada yang mengurus rumah, suami & anak-anak yang mengurus aku, tak ada orang lain yang menolong. Seharusnya aku lebih berfokus pada suami dan anak-anakku saja. Omongan orang apalah tak penting, selama ini aku merugi. Aku sengaja menulis tulisan ini agar aku bisa mengingat lagi hari ini, hidupku singkat sekali, sangat rugi sekali jika memikirkan omongan orang.
Dari sini juga aku bisa melihat selama ini justru aku memiliki banyak privillege yang sebelumnya tak terlihat dimataku, tak aku sadari. Aku memiliki privillege menemani anak-anakku tumbuh berkembang dari mereka lahir sampai sebelum masa mereka sekolah selama 24 jam. Ya, 24 jam tak pernah terpisahkan denganku. Saat mereka sekolah aku punya privillege menyiapkan sarapannya, bekalnya, antar-jemput sekolah hingga ekskul dan lesnya. Pivillege selalu bisa bertemu anak-anakku setelah mereka pulang sekolah. Privillege bisa intens bertemu suami saat sedang ada di rumah, ya saat suami di rumah selalu ada aku tidak pernah absen. Privillege bisa lebih fokus dan tenang beribadah di rumah sholat dan mengaji. Privillege bisa membaca buku. Privillege bisa menulis. Privillege bisa membereskan rumah sesuka hati tau-tau kamar dekorasinya berubah kalau bosan, dan ruang lainnya. Privillege bisa mengurusi tanaman sesuka hati. Privillege bisa istirahat dulu kalau benar-benar sedang lelah mengerjakan pekerjaan domestik. Privillege tidak harus izin pada atasan jika sedang sakit, atasanku ya suamiku, justru jadi dibantu suami kalau aku sakit. Tidak perlu terpikirkan lagi apa kata orang, yang penting aku happy punya banyak privillege dari Allah yang harus banyak di syukuri. Alhamdulillah. Menimba ilmu sampai akhir hayat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar