Tentang Sebuah Privilege
Saat aku belum merantau, aku memiliki banyak sekali privilege. Nama orang tuaku dan nama kakekku selalu tersematkan pada namaku. Ya, sebuah privilege untukku tentunya. Ayahku seorang guru teladan dan pernah menjadi kepala sekolah di suatu sekolah. Kakekku pun begitu, sebagai seorang cendekiawan yang pada saat itu masih jarang sekali orang memiliki pendidikan tinggi. Kakekku sekaligus seorang pemimpin sebuah yayasan terkenal sekaligus kepala sekolah di sekolah yayasan tersebut dan sempat menjadi kepala sekolah salah satu sekolah negeri. Akupun selalu berwara-wiri di sekitar tempat ayah dan kakekku bekerja saat aku kecil. Maka semua orang mengenalku dengan latar belakang kakek dan ayahku. Tentu hal ini sebuah privilege yang menguntungkan bagiku seharusnya.
Namun alih-alih merasa sebuah privilege, aku merasa dengan menyematkan nama besar ayah dan kakekku, hal ini justru menjadi sebuah beban di pundakku. Aku selalu merasa segala gerak-gerikku selalu diawasi oleh banyak mata. Dari sinilah aku merasa seperti aku adalah central pusat perhatian. Padahal bisa ya bisa juga tidak. Namun aku membayangkan jika hal kecil saja kesalahan yang aku lakukan, akan berdampak pada nama baik keluargaku. Oleh karena itu aku selalu berusaha menjadi anak baik dan menjadi yang terbaik. Mungkin ini sebuah privilege juga agar aku tidak melakukan hal yang aneh-aneh sehingga bisa tetap terus di dalam track. Tapi ada sisi lain yang ingin aku raih juga saat itu, yaitu aku ingin meraih sesuatu karena hasil jerih payahku sendiri juga, ya eksistensi itu yang ingin aku dapatkan. Karena selama ini aku merasa saat aku berprestasi, orang-orang melihat aku tidak secara utuh dari potensiku, namun karena nama orang dalam. Aku ingin orang lain melihat potensiku dan melihatku secara utuh sebagai diriku sendiri.
Diriku yang saat itu memang benar-benar naif dan tidak mengerti bagaimana cara bekerja dunia. Padahal aku bisa saja memanfaatkan privilege itu sekaligus untuk membangun diriku juga. Terbiasa orang mengenalku menghargai dan menghormatiku karena nama yang tersemat padaku, aku justru memilih jalan lain pergi merantau ke tempat yang tak satupun orang mengenal ayahku, kakekku, keluargaku, dan aku. Karena aku merasa dengan merantau inilah aku menemukan jatidiriku sendiri dan menjadi sebuah pembuktian tentang potensiku seberapa jauh mana.
Saat aku SMP bersekolah di sekolah tang jauh dari nama orang tuaku, ternyata tetap saja ada yang mengenaliku dengan nama keluargaku yang tersemat padaku. Aku masih merasa 50:50 aku berhasil karena jerih payahku dan separuh lagi karena privilege. Saat kuliah lebih sedikit lagi orang yang mengenal keluargaku. Saat ini pulalah aku merasa aku bisa membuktikan jatidiriku dan potensiku. Aku ingin membuat orang tuaku bangga dengan hasil jerih payahku sendiri dan aku bisa mewujudkan hal itu. Selama 4 semester berturut-turut aku menjadi asisten praktikum dosen di universitas tempat aku menimba ilmu tanpa menyematkan nama keluargaku. Akupun dipercaya juga menjadi penanggungjawab beberapa matakuliah. Aku dipercaya oleh lingkungan kampusku mulai dari teman hingga dosen karena nilaiku, melihat potensiku sendiri, bukan dari melihat nama keluarga yang tersemat pda diriku. Saat itulah aku merasa berada di puncak pembuktianku, aku berada di puncak pencapaianku.
Namun puncak itu ternyata tidak bertahan lama. Selepas berada di puncak, selesai wisuda, selesai pulalah aku berada di lingkungan kampus. Saatnya untuk bekerja untuk mengamalkan ilmu yang ku dapatnkan. Nyatanya aku bekerja di tempat ayahku dan tempat kakekku membesarkan yayasannya. Rasanya nano-nano, di satu sisi aku syukuri, di sisi lain terasa sekali pihak-pihak yang tidak menyukai keberadaanku, ah privilege, gemas seperti tidak punya kemampuankah diriku dipikirnya? Bukan berarti aku tidak diterima bekerja di mana-mana, bukan. Aku pernah juga diterima di daerah yang lebih jauh di sekolah Farmasi, hanya saja aku tolak. Karena dengan pertimbangan berbagai hal. So, I have skill,right. You just don’t know about me, about my skill.
Setelah menikah, aku tidak lagi bekerja karena fokus menjadi ibu rumah tangga dan kini aku berada di lingkungan masyarakat yang nyata yang begitu majemuk, bukan lagi di lingkungan homogen akademisi. Aku memilih merantau jauh bahkan terlalu jauh sekali sampai privilege nama yang tersemat pada namaku yang aku miliki selama inipun tidak ada yang tahu sama sekali. Dari sinilah kehidupanku benar-benar terasa di uji. Tidak ada yang mengenalku sama sekali ditempat rantau, siapa aku, bagaimana latar belakangku, saat membuka diri selalu saja dikecewakan, dicoba kembali untuk lebih terbuka, semakin dalam lagi dikecewakan yang menjadikan diriku menjadi orang asing bahkan diriku sendiri merasa asing dengan diri ini, mungkin terlalu banyak memikirkan suara sumbang di luar.
Dikira sahabat ternyata bukan. Sahabat itu harus saling effort, saat aku saja yang effort mendekati, oh berarti aku bukan sahabatnya. Dikira sahabat, tapi kenapa makin ke sini kelakuannya makin nge-bossy, nyentak, suka nyari kambing hitam, candaannya yang sindir-sindiran, padahal sahabat itu seharusnya saling menghargai. Dikira sahabat, tapi gak ada satu sekumpulan ngebahasin yang ga ada itu, jangan heran besok-besok kamu yang gak ada justru kamu yang jadi bahan obrolannya. Tentunya circle yang seperti ini menjadi circle yang tidak sehat. Lebih baik lari mundur 1000 langkah daripada tersiksa kapan menunggu giliran untuk digibahi.
Fokus menjadi ibu rumah tangga memang besar sekali tantangannya. Melepas pekerjaan, tinggal di perantauan orang tidak tahu siapa aku sebelumnya, orang tidak tahu siapa orang tuaku, siapa kakekku, jauh dari privilege. Ya mungkin ini ujian naik tingkat yang sebenarnya. Selama ini aku ingin jauh dari privilege, ingin berdiri sendiri di atas kaki sendiri, sekarang benar-benar jauh dari privilege malah justru aku sendiri yang sekarang masih kuwalahan. Justru titik baliknya adalah aku berterima kasih banyak pada ayah dan kakekku selama ini telah memberiku privilege yang impact nya begitu besar. Justru sekarang, aku sedang belajar bagaimana caranya bisa membuat privilege yang besar juga untuk anak-cucuku kelak meski aku fokus di bidang ibu rumah tangga, semoga. Masih on going masih di usahakan karena memang menimba ilmu sampai akhir hayat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar