Tampilkan postingan dengan label #BecomeMomy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #BecomeMomy. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Agustus 2019

Menyapih Anak - Butuh Kesiapan Anak dan Ibu serta Para Pendukungnya

Menyapih Anak - Butuh Kesiapan Anak dan Ibu serta Para Pendukungnya

_

Hi guys, kali ini aku mau sesi sharing aja tentang kehidupan seorang ibu. Kalau sudah punya baby, dengan alami Qadratullah ibu langsung seketika bisa meng-ASI-hinya (maksudnya ngasih ASI ya, alias menyusui. Hehe..) Tapi kalau waktunya sudah tiba, si baby menginjak atau akan menginjak 2 tahun, sangat membutuhkan kesiapan mental dan fisik dari anak dan ibu serta para pendukungnya alias orang-orang disekitarnya. Why? Simak yuk..

_

Ketika kita mendengar menyapih, atau baby berhenti menyusu langsung dari ibunya untuk selamanya, biasanya orang-orang hanya menanyakan "gimana sih caranya menyapih?" ada yang jawab ditempelin yang pait-pait, atau dimerah-merahin biar anak takut/ga suka lagi karena rasanya udah ga enak. Intinya pertanyaan itu lebih kepada sisi penanganan anaknya saja, siap atau belum. Padahal yang ga kalah penting adalah kesiapan ibunya. Ketika stop menyusu, ASI yang biasa keluar itu akan menjadi tertampung banyak di dalam payudara karena tidak dikeluarkan, akhirnya menjadi bengkak dan sangat sakit, beberapa ada yang sampai mengalami mastitis, seperti demam. Maka ketika ingin menyapih, sangat perlu memperhatikan penanganan sang ibu ketika mengalami kesakitan tersebut, karena ibu akan sekaligus menangani anak yang akan rewel ketika disapih. Kebayang dong, sang anak kalau rewel mintanya mau deket sama ibu, tapi ibunya sendiri kalau lagi sakit itu gimana? So, PR untuk para suami atau siapapun yang serumah dengan ibu, setidaknya jangan nambah bikin drop ibu, lebih bagusnya dukung ibu yang menyapih, misal kalau sakitnya ga tertahankan banget diajakin ke dokter, ya pokoknya apapun yang mendukung supaya proses menyapih yang dilalui bisa berhasil.
_

Selanjutnya mental sang ibu harus siap dan kuat ketika ingin menyapih. Karena selama proses menyapih akan timbul pertentangan hati "kasihan liat baby nangis, ga tega liat baby mohon-mohon minta nyusu" tapi emang harus dilakuin.. dan akhirnya ada episode anak sama ibu nangis bareng. Pasca menyapihnya, ibu harus kuat mental karena akan sangat merindukan kedekatan antara ibu dengan anak ketika proses menyusui dulu. Mulai dari tatapan cinta baby ke ibu, sentuhan lembut sayang baby ke ibu, ekspresi bahagia baby ke ibu saat dan setelah menyusui, pokoknya semua yang menyenangkan saat menyusui itu ga akan lagi terulang (kecuali kalo punyak anak lagi ya.. hehe..) Jadi siap-siaplah ibu berpisah selamanya dengan moment-moment indah saat menyusui.
_

Segitu dulu aja sih yang mau aku sharing, jadi ceritanya ngebahas yang untold tentang menyapih. Hal-hal yang umum biasa dibahas tentang menyapih ga dibahas di sini, jadi sisi untold nya aja ya, semoga pesannya tersampaikan.
_

Thanks for reading guys..

Minggu, 05 Mei 2019

Bergaul dengan Sesama untuk Menjalankan Misi Dakwah

Masih tentang menjadi seorang ibu hampir dua tahun ini yang otomatis berubahlah pergaulan dengan lingkungan sekitar, tentunya karena faktor merantau juga, jadi perubahan dunia pergaulan benar-benar terasa 360°. Hampir dua tahun menjadi seorang ibu dan hampir tiga tahun menjadi seorang istri, tentu tidak terlepas begitu saja dari konflik tertentu. Konflik yang begitu terasa adalah tentang mom shaming, yaitu dibanding-bandingkan segala aspek kehidupan, mulai dari pola asuh hingga tumbuh kembang anak. Postingan sebelumnya juga membahas ini lebih detil, tapi kali ini aku hanya mengulas sedikit saja tentang kinflik batin tersebut yang berujung pada inti pembahasan yaitu mengenai misi dakwah.

Tidak akan pernah habis dan tidak akan pernah selesai jika kita meladeni orang-orang yang suka berbuat mom shaming atau suka membanding-bandingkan kehidupan kita. Mengalah dan diam juga tidak akan menyelesaikan masalah, justru sakit hati akan semakin menumpuk dan menjadi dengki. Maka satu-satunya jalan agar selamat ialah dengan menjalankan misi. Kita harus menjadi pribadi yang bervisi dan misi jelas. Visiku ialah untuk membentuk keluarga dan lingkungan yang taat kepada Allah. Maka misi yang harus dijalankan adalah berdakwah. Daripada bersilat lidah menanggapi ucapan buruk atau malah pasrah berdiam diri, sudah saatnya menjawab dengan menyisipkan dakwah di dalamnya.

"Anakmu kok makin kurus aja ya?!"
"Iya, alhamdulillah meski kurus, Allah berikan kesehatan sehingga anakku bisa bisa aktif dan tumbuh kembangnya sesuai umurnya. Maasyaa Allah, begitu nikmatnya karunia Allah."

"Anaknya gerak terus ga bisa diem, apalagi anaknya si fulan lebih lincah lagi, ibunya pasti lebih kualahan lagi dibanding kamu!"
"Maasyaa Allah, semua sudah Allah atur kadar porsi kemampuan setiap hamba-Nya. Alhamdulillah, Allah mampukan aku untuk mengurus anak dengan segala kemampuan yang dimiliki, pastinya begitupun ibunya si fulan. Allah tahu kemampuan setiap hamba-Nya sepaket dengan segala kondisinya. Bahkan untuk hal yang kita tidak ketahui dari kehidupan orang lain, Allah lebih mengetahuinya tentang bagaimana keadaan sebenarnya. Maasyaa Allah, begitu Penyayang dan Maha Adilnya Allah."

Kemudian masih banyak lagi contoh-contoh untuk menyisipkan dakwah di dalamnya. Jika dakwah yang disisipkan, sudah dapat dibayangkan bukan bahwa lawan bicara Insyaa Allah tidak akan berkata macam-macam lagi. Ketika kita terus selipkan rasa kagum kita pada Allah, kita selipkan tentang kebesaran Allah pada ucapan kita, maka tak satupun yang dapat menyerang mengecilkan hati kita. Karen Allah Maha Besar, Allah yang mampu mendamaikan hati setiap manusia. Semoga Allah selalu menuntun kita semua. Aamiin.

Tidak Perlu Membanding-Bandingkan Antar Satu Individu dengan Individu Lain, Allah Sudah Menetapkan Masing-Masing Porsinya

Tidak Perlu Membanding-Bandingkan Antar Satu Individu dengan Individu Lain, Allah Sudah Menetapkan Masing-Masing Porsinya

Sudah hampir dua tahun menjalani status sebagai ibu, ternyata ada sisi lain yang begitu menguras perasaan. Bukan tentang hubungan yang kujalani antara aku dan anakku, bukan. Melainkan dari respon sekitar yang sering membanding-bandingkan perkembangan anak dan membandingkan cara pengasuhan orang tua, yang lebih dikenal dengan mom shaming. Bukan masalah terlalu baper, bukan. Ini hanyalah soal ketika seseorang baru mengerti bagaimana rasanya hanya ketika ia berada di posisi yang sama. Hal yang manusiawi ketika ada masanya perasaan ada pada di titik begitu jenuh menerima perkataan-perkataan yang membanding-bandingkan segala hal. Namun memang perkataan orang lain tidak bisa kita atur, maka mulai dari kesadaran diri sendirilah agar tidak melakukan hal yang serupa pada orang lain. Perlakukanlah orang lain seperti kita ingin diperlakukan orang lain, hanya itu ikhtiar yang bisa dilakukan agar menumbuhkan suasana pergaulan yang baik.
_
Namun memang ketika kehidupan kita dibanding-bandingkan dengan kehidupan orang lain yang terlalu sering membuat kita begitu jenuh dan buntu harus berbuat apa lagi agar tidak selalu dibandingkan. Kemudian saat yang seperti inilah ketika kita berpasrah kepada Allah dan biarkan Allah yang menuntun atas segalanya, maka Allah hadir memberi kedamaian membesarkan hati yang terluka. Allah arahkan jari ini untuk menunjuk tombol menonton peserta Hafiz 2019 yang bernama Naja, ia terkena Carebral Palsy atau bisa dikatakan lumpuh otak namun dapat menghafal 30Juz, Maasyaa Allah. Seketika aku bermuhasabah dan membayangkan bagaimana perjuangan ibunya dalam menerima segala keadaan di lingkungan yang pastinya banyak yang membicarakan anaknya namun sang ibu tetap fokus terhadap masa depan anaknya dan menjadikannya seorang penghafal Al-Qur'an.
_
Banyak anak yang lincah, tapi beluma hafal Al-Qur'an. Tapi Naja, menggerakkan badannyapun sulit, namun ia bisa manghafal 30 juz Al-Qur'an, Maasyaa Allah. Maka kesimpulan dari sini ialah bahwa setiap individu sudah Allah tetapkan masing-masing porsinya, yaitu porsi rezekinya, yang bisa berupa kelengkapan tubuh, kepandaian dalam menghafal, dan rezeki-rezeki lainnya yang harus banyak kita syukuri. Maka tidaklah pantas kadar porsi rezeki yang telah Allah berikan itu untuk dibanding-bandingkan. Jika kita berniat membandingkan sebagai penyemangat agar lebih taat beribadah tentu boleh, seperti misalnya Naja bisa menghafal, kita jadi semangat agar bisa menghafal sepertinya. Namun jika membandingkan hanya untuk iseng, usil, basa-basi tanpa arah dan tujuan tentu dilarang dan khawatir menjerumuskan pada kufur nikmat. Maka biarlah hampir dua tahun ini dalam sebuah perasaan menahan sakit hati dari dibanding-bandingkan oleh orang lain biarkanlah berlalu, ini belum seberapa daripada tahun-tahun yang dilalui oleh ibunya Naja. Ada Allah yang menuntun, semoga Allah selalu menuntun&membimbing. Aamiin.

Rabu, 24 April 2019

Berharap Hanya Kepada Allah

Sayang banget rasanya kalau obrolan yang berbobot itu dibiarkan dan berlalu begitu saja. Kalau diperkuliahan, obrolannya itu sama dosen dikelas dan bobotnya (isinya) itu materi yang diampu, udah pasti dicatetnya. Kalau kehidupan nyata sehari-hari? Nah ini, sayang banget kalau ga sampe ada bekasnya (tulisannya). Karena itu, media blog bisa jadi alternatifku buat nulis-menulis materi kehidupan sehari-hari yang udah di dapet. Tapi maklumin aja ya, kali ini bahasanya ga mikirin EYD sama sekali, berhubung lama nulis dan mood nya lagi pake bahasa semi gaul gitu. Hehe..

Aku paling-paling-paling-paling ga suka banget-banget-banget (kebanyakan paling dan bangetnya.haha) sama orang yang banyak ngomentarin sisi kehidupanku apalagi ditambah ngebanding-bandingin kehidupanku dengan orang lain yang intinya mom shaming gitu deh, alias mempermalukan cara aku menjalani kehidupan. Seumur-umur baru ketemu spesies orang yang begini ke aku itu 2x ketemunya (2 itu masing-masing orang yang berbeda). Fatalnya, aku orangnya gampang banget buat kepikiran kalau ada masalah. Ya jadilah aku kepikiran terus. Lebih fatalnya lagi, yang satu hanya ketemu sekilas ya abis itu kelar pas udah ga ketemu spesies itu, lah tapi yang satunya lagi nemplok di orang terdekat yang sewaktu-waktu bisa kapan aja ketemunya, nah loh apa ga stress nih pikiran?

Singkat cerita, gegara terus-terusan dihujat, dijahilin omongan, diomongin puedes banget pokoknya semua yang aku jalanin dikehidupan ini salah terus dinilainya, intinya mom shaming gitu lah, akhirnya hati tuh lama-lama jadi keruh, dan berakhir dari penyadaran kalau malah jadi dengki. Nah fatalnya pake banget ya dengkinya ini, karena jadi merugikan diri sendiri. Terus karena udah geram banget dan lelah, berasa hati begitu sakit, sudah saatnya diobati, akhirnya berobatlah ke ayahanda tercinta, curhat dong yaaaah. (Berobat maksudnya curcol cas-cis-cus.hehe). Soalnya curhat ke ayahanda itu pastinya dikasih obat-obat yang mujarab. Bener aja, setelah itu hati berasa adem bener dah pokoknya.

Ayahanda bilang, kalau sesuatu yang muncul itu bisa jadi karena ada sesuatu yang lain yang ga muncul. Atau bisa dikatakan juga sesuatu yang muncul itu bisa jadi menutupi sesuatu yang lain. Langsung diterapkan aja ya, ketika berbuat buruk macem muncul dengki, nah si dengki ini bisa jadi muncul karena menutupi kebaikan yang lain, jadi dengkinya mendominasi. Atau bisa dikatakan si dengki muncul karena menutupi kebeningan hati. Berarti, kalau mau sembuh, sekarang coba dibalik, kebaikan dan kebeningan hati itu harus lebih muncul dan menutupi kedengkian yang ada hingga dengki itu sendiri hilang. Contoh lain, ketika berbuat buruk karena bujuk rayu setan, berarti kita melupakan Allah (mengingat Allah tertutupi bujuk rayu setan itu). Maka jika ingin sembuh hatinya ya dibalik,munculkanlah pikiran ingat selalu kepada Allah agar menutupi bujuk rayu setan hingga hilang terbujuknya.

Simpel banget khan obatnya tapi manjur?
Nah, ada tambahan lagi dan inti dari judul cerita di sini, jangan berharap pada selain Allah. Berharaplah hanya kepada Allah.

Kata ayahanda, ketika ada orang yang jahatin kita, biarlah ia begitu, kita tetap jadi orang yang baik aja. Kita tetep ngebaikin orang yang jahatin kita karena kitanya yang emang orang baik, yakni jati diri kitanya yang emang baik, jangan pernah ada rasa berharap setelah kita ngebaikin orang yang jahatin kita maka orang itu bakal ngebaikin kita juga, jangan. Karena kalau orang yang udah ngejahatin kita tetep jahat padahal udah kita baikin, itu akan berasa sakit dan berujung dengki lagi. Oleh karena itu,jangan berharap apapun pada selain Allah. Berharaplah pada Allah saja. Kita berbuat baik karena berharap pada pahala dari Allah, bukan berharap bakal dibaikin balik sama orang yang kita baikin. Karena kalau sekali Allah bertindak menjadikan seseorang seperti batu, maka jadilah ia beku hatinya seperti batu dan ga akan berubah cair sedikitpun. Kalau Allah berkehendak seseorang untuk berubah menjadi lebih baik, maka jadilah ia baik meski ia sendiri tak ingin, karena Allah sedang membimbingnya jadi orang baik. Maka kuncinya yaitu berharap kepada Allah saja.

Kesimpulan dari panjang lebar cerita di atas, yaitu:
Obat dengki terdiri dari:
1. Munculkan pikiran selalu mengingat Allah
2. Munculkan kebaikan diri kita kepada siapapun karena jati diri kita yang memang orang baik, bukan karena ingin dibales baik lagi.
3. Berharap hanya kepada Allah.

Rabu, 13 Maret 2019

Ikatan Batin antara Ibu dan Anak


Ikatan Batin antara Ibu dan Anak

_

Ketika kita menjadi ibu, salah satu hal yang istimewa ialah ketika kita merasa sangat dibutuhkan oleh anak. Rasa sangat dibutuhkan itu begitu mengharukan, kemana-mana pokoknya harus dengan ibu, mau apa aja harus dengan ibu, pokoknya dimana ada ibu, disitu ada anaknya. Menjadi sosok yang sangat dibutuhkan seperti itu sangat membahagiakan.

_

Tapi, konflik mulai terjadi ketika sekitar mulai berkomentar yang tidak-tidak dengan kelekatan anak dan ibu. Seperti:

1. "Kok anaknya kalo tidur harus sambil nyusu ASI langsung? Ya ga bisa kerja dong ibunya? Terus ibunya ikut ketiduran, dasar ibu pemalas."

2. "Kok anaknya ga mau digendong sama orang lain sih? Nemplok sama ibunya terus? Ga kayak anaknya fulan sama siapa aja mau. Ga pernah diajak bersosialisasi ya jadi penakut gitu?"

3. "Kok anaknya ga mau sih dibawa sama orang lain? Kalo ga nyusu ASI sih dibawa aja, kasih aja susu botol biar enak dibawa jalan-jalan ga harus sama ibunya terus ribet amat."

4. "Kok nyusu nya ASI langsung? Ga di botol aja? Ribet dong kalo pergi-pergi? Ibunya ga bisa kerja dong?"

5. dan seterusnya...dan seterusnya komentar-komentar sadis yang menyakitkan lainnya.

_

Semua komentar-komentar dari sekeliling, sedikit atau banyak, sadar atau tidak, PASTI akan mempengaruhi pola pikir sang ibu. Mulai dari komentar iseng sampai serius seperti pada contoh dapat memberikan dampak yang buruk bagi kelekatan ibu dan anak. "Padahal kelekatan adalah kunci awal dari ikatan batin ibu dan anak". Mengatur mulut orang lain agar tidak berucap kalimat sadis tentunya tidak bisa kita lakukan, maka yang harus kita lakukan adalah memulainya dari diri sendiri untuk "STOP" berkomentar pada kehidupan orang lain dalam bentuk apapun.

_

Namun semua komentar apapun itu dari luar, jika ibu tau RUMUS ikatan batin antara ibu dan anak, maka tidak akan diperdulikan komentar meski sejahat apapun itu. Karena rumus ikatan batin ini akan berlanjut seterusnya hingga akhir hayat.

Rumus ikatan batin antara ibu dan anak ialah:

"Perlu adanya kelekatan antara ibu dan anak. Karena ikatan batin terbentuk semakin menguat ketika kelekatan yang dibentuk sejak fase menyusui 0-2 tahun begitu lekat antara ibu dan anak."

_

Fase menyusui itu terlalu singkat, cukup hanya dijalani dalam waktu 2 tahun saja, maka manfaatkanlah waktu tersebut untuk membentuk kelekatan antara ibu dan anak, membentuk bounding dengan anak, membentuk ikatan batin yang kuat dengan anak.

_

Di usia sejak lahir, hal pertama yang dapat anak rasakan ialah sentuhan dari ibunya. Maka seringlah membelai anak, buatlah anak begitu lekat. Saat memberi ASI pun biarlah secara langsung, agar anak dan ibu semakin lekat. Kelekatan inilah yang membentuk ikatan batin kuat antara anak dan ibu. Sang ibu menjadi sosok yang ternyaman bagi anaknya, sehingga ketika besar kelak segala apapun masalah yang dihadapi maka akan kembali kepada dekapan ibunya. Maka berbanggalah jika anak dibilang bau tangan, jika anak tidak mau digendong oleh orang lain, karena itulah yang menjadi pertanda bahwa kelekatan antara ibu dan anak terbentuk kuat sebagai awal pembentukan ikatan batin yang kuat.

Ada yang komentar anaknya ga mau sama orang lain? Banggalah karena kelekatan berhasil terbentuk dan jawab "Anakku bukan anak gampangan yang mau dibawa sama siapa aja. Anakku hanya mau digendong sama ibunya, maka kelak ketika besar TIDAK menjadi sosok yang GAMPANGAN dibawa dan diajak orang lain begitu saja".

Jika ada yang bilang repot dong anaknya apa-apa harus dengan ibunya? Maka banggalah karena kelekatan berhasil dibentuk dan jawab "Fase ini hanya terjadi saat pembentukan pondasi. Fase ini hanya ada pada saat anakku kecil, begitu anakku besar maka ia akan tumbuh seperti orang dewasa lainnya yang memiliki kehidupan sendiri, tentu saja aku yang menjadi ibunya tidak merasa kerepotan sama sekali dengan fase yang hanya sesingkat ini. Karena dengan kelekatan inilah awal pondasi penjagaanku pada anak terhadap pergaulan bebas. Ketika ada masalah, bukan orang lain yang bukan mahram yang didekap, tapi ibunya. Ketika ada kesulitan lalu diajak jalan pintas maksiat oleh orang lain, maka anakku tak semudah itu gampangan diajak orang lain, tapi anakku akan kembali lagi padaku."

_

Kemudian setelah sentuhan, kemampuan anak sebelum melihat ialah mendengar, maka ibu banyaklah mengajak bicara dengan anak agar suara ibu direkam oleh anak dan semua perkataan ibu nantinya ketika besar akan selalu didengarkan oleh anak, nasihat apapun dari ibu akan di dengar hingga besar nanti. Seringlah mengaji, seringlah mengucap Asma Allah agar anak selalu terbiasa mendengar yang baik-baik. 

_

Kemudian saat penglihatan anak mulai jelas, ibu memang harus selalu berada di sisi anak, harus selalu absen muka agar muka ibu direkam oleh anak sebagai sosok yang selalu ada untuknya, sosok yang selalu menyenangkan untuk anak.

_

Maka ketika anak dibilang bau tangan, ketika anak dibilang maunya apa-apa sama ibu, maka nikmatilah dan berbanggalah karena kelekatan ibu dan anak terbentuk dengan baik, sehingga ikatan batin antara anak dan ibu semakin menguat. Semakin kuat pondasi dasar yang dibentuk sejak kecil, maka akan kuat pula bangunan yang terbentuk meskipun sudah besar nanti. Pentingnya ikatan batin yang kuat antara ibu dan anak ialah ibarat seperti layang-layang, ketika anak sudah besar maka terbanglah setinggi-tingginya, namun ketika ada bahaya seperti pergaulan bebas atau semacamnya mulai terlihat maka orang tua sudah siap siaga dapat dengan mudahnya menarik kembali layangan itu agar benangnya tidak putus agar tidak terjerumus kedalam bahaya tersebut. Namun jika kelekatan sejak kecil tidak terbentuk, ikatan batin tidak menguat, jangan harap anak akan mendengar nasihat orang tua ketika besar nanti, karena semuanya sudah terlambat. Maka sebelum semuanya terlambat, fase 0-2 tahun ketika anak masih salam fase menyusui inilah harus dimanfaatkan sebaik mungkin, karena waktu tidak dapat diputar ulang kembali. Berhentilah memikirkan kesakitan komentar sadis dari orang lain tentang kelekatan, mulailah menyelamatkan masa depan anak dengan membentuk kelekatan yang kuat agar ikatan batin dengan anak semakin menguat pula.

_

Materi tentang kelekatan ibu dan anak ini ditulis dengan versi penulis. Adapun inspirasi penulis ialah dari Ust. Bedri Jaisyurrahman dalam ceramah yang bisa ditonton pada link berikut:

https://youtu.be/AjFAYdcuPSo

Kamis, 22 November 2018

Berusaha & Sabar

Tetap Berusaha & Sabar
__
Menjadi seorang ibu yang mengurus anak pertama tentunya adalah pengalaman pertama kalinya dalam hidup.
Karena pengalaman pertama, tentunya tidak lepas dari berbagai komentar dalam mendidik, mengurus, hingga sekecil apapun dari cara pola asuh anak. Komentar, komentar, dan komentar. Kalau anak fulan begini, kok anakmu begitu? Cara ngurusnya kok begini, anaknya fulan begitu? Dan seterusnya, dan seterusnya.
_
Entah komentar tersebut positif entah negatif. Entah komentar tersebut memotivasi, entah menjatuhkan.
_
Maka, disinilah letak perjuangannya. Berbagai komentar apapun itu, intinya tetap harus berusaha memberikan yang terbaik untuk anak. Karena anak adalah investasi pahala besar yang Allah berikan jika berhasil mendidiknya hingga memiliki akhlak yang baik dan menjadi anak sholih.
_
Maka disinilah letak ujiannya. Berbagai komentar apapun itu, harus tetap bersabar. Karena inilah pahala tambahan yang Allah berikan jika mampu melewatinya. Lisan disemesta ini berkomentar apapun, tetap bersabar.
_
Maka ingatlah tentang Rasulullah dalam menyebarkan dakwah Islam, bagaimana dengan tanggapan kaum kafir?
Dan komentar apapun dalam parenting anak, ini hanyalah secuil ujian sabar, ga ada apa-apanya dibandingkan sabarnya Rasulullah menghadapi kaum kafir.
_
Oleh karenanya, santai sajalah hati ini, tidak perlu ada penyakit hati yang berbekas. Tetap berjuang, ingatlah investasi pahala yang diraih. Tetap bersabar, ingatlah perjuangan sabarnya Rasulullah.
_
Bercita-cita ingin meneruskan perjuangan Rasulullah dalam dakwah Islam, maka mulailah dari hal yang kecil, dimulai dari hati yang tetap terjaga dari dengki dan tetap fokus dalam mendidik yang dimulai dari mendidik diri sendiri.
_
❤


Kamis, 27 September 2018

Ibu Rumah Tangga VS Ibu Pekerja, Manakah yang Lebih Baik?

Situasi 1: "Sarjanah kok nganggur di rumah aja? Bayinya kok ga langsung dipakein diapers aja? Kok bayinya dibedong? Anaknya kok kurus? Kok ga pake dot aja? Kok makannya ribet dikukus, disaring lagi, kok ga yang langsung seduh biar praktis? Kok anak banyak dilarangnya ga boleh main semaunya aja? Kok ngedidiknya ga kayak anaknya fulan? dan seterusnya, dan seterusnya."

__

Situasi 2: "Anak masih bayi kok tega ditinggal kerja? Bayinya sama siapa? Kok diapersnya sering diganti, ya boros dong, kalau anaknya si fulan nunggu sampe penuh dulu? Kok ga pumping aja? Kok udah langsung dikasih sufor aja, anak sapi dong? Kok makanannya sering yang instant? Kok anak mainan apa aja dibiarin aja sih? Kok anaknya ga kayak anak si fulan sih? Kok ngedidiknya gitu, kalau si fulan begini? dan seterusnya, dan seterusnya"

__

Inti dari situasi 1&2 di atas yaitu: apapun yang dilakukan seorang perempuan yang baru belajar menjadi seorang ibu tidak pernah lepas dari komentar yang mungkin seperti sederhana bagi yang mengucapkannya, tapi bisa menyakiti orang yang dibicarakannya. Bukan tentang terlalu baper, namun tentang peribahasa mulut lebih tajam daripada pedang itu memang benar ada, seseorang ternyata bisa terdzolimi hanya karena lisan yang tak terjaga. Maka, menjaga lisan adalah lebih baik daripada mengumbarnya. Diam menjadi lebih baik daripada berbicara kemudian menyakiti.

__

Hal yang lebih menyedihkan lagi ketika setelah didzolimi oleh lisan orang lain, kemudian mencari segala pembenaran bahwa pilihan yang telah diambil adalah yang paling baik dan kemudian menyudutkan pilihan yang diambil orang lain itu salah. Kemudian mulai mencari kawan yang senasib dan yang pro dengan pilihan yang sesuai, jika tidak sesuai dengan pilihan maka disudutkan salah. Akhirnya lama-lama saling menuding siapa yang paling benar dan paling salah. Lalu tanpa disadari hati yang dulunya sakit karena terdzolimi menjadi berbalik ikut mendzolimi. Astaghfirullah.

__

Iqra'! Bacalah! Perbanyak baca Al-Qur'an dan mentadaburinya adalah lebih baik daripada perbanyak merumpi yang berujung terdzolimi dan menzdolimi akibat lisan yang tak terjaga. Betapapun pedihnya didzolimi lisan yang merendahkan, biarlah hal tersebut hanya sebatas lisan di dunia bagi orang yang tak berpengetahuan. Jangan sampai balik menyerang dan kemudian apa bedanya orang berilmu dengan yang tidak. Karena Rasulullah tidak mengajarkan dendam. Justru seharusnya mari saling mendukung untuk membentuk generasi penerus yang sholih & sholihah meski dengan metode dan cara mendidik yang berbeda-beda. Mari merapatkan barisan untuk saling menguatkan membentuk generasi yang dapat meneruskan perjuangan Rasulullah.

Senin, 27 November 2017

Mengatasi Perut Kembung

Buat saya,mengurus Ubay itu seperti mengulang kembali nikmatnya masa-masa belajar sewaktu kuliah.
Saat kuliah bergelut dengan praktikum, penelitian dan segudang tugas lainnya membentuk saya memiliki pola pikir "sebab-akibat-solusi" untuk menghadapi beragam situasi, termasuk dalam mengurusi Ubay.

Pernah suatu ketika Ubay seperti gelisah. Diberi ASI sudah, digantikan popoknya sudah, digendong sudah, lalu apa lagi? Si uminya makin kebingungan. Diteliti lagi lebih cermat, ternyata perut Ubay kembung. Maka dicarilah solusinya, berdiskusi dengan abi, lalu dilakukanlah treatment massage I love you (ILU) dengan kombinasi menggerakan kaki seperti mengayuh sepeda. Gerakan tersebut bisa dilihat di youtube. Alhamdulillah gas yang berlebih diperut membuat kembung akhirnya bisa keluar. Ubay langsung nyengir lega deh, dan yang lebih lega lagi itu umi&abinya karena satu soal telah teratasi. Hehe.

Jadi, tidak ada ilmu yang sia-sia. Terbiasa meneliti dalam praktikum sewaktu kuliah, ilmu dan pola pikir bentukan dari kebiasaan tersebut bisa diterapkan pula saat ini. So, rindunya belajar saat berkuliah terobati juga dengan hadirnya Ubay. Semenjak ada Ubay, uminya jadi rajin lagi belajar dan membaca berbagai bacaan untuk bekal mengurus Ubay. Untungnya si umi punya basic pendidikan biologi juga jadi terbantukan memahami mencari ilmu yang terbaik untuk Ubay. Ditambah lagi ada abinya yang seperti team work dalam mencari solusi ketika ada sebuah soal yang harus segera ditangani. Hehe. *Just share cause we care

#BecomeMomy

Uwais Amsyar Ubaidillah

Throw back to 19 September 2017

"Cara melahirkan anak yang baik dan benar itu gimana sih?" Itu yang menjadi pertanyaan besar buat saya ketika akan menghadapi persalinan, karena ini adalah kali pertamanya saya memiliki seorang anak. Dari pertanyaan itulah saya banyak berburu bacaan berbagai artikel seputar persalinan, mulai dari artikel sederhana hingga anatomi dan fisiologis tubuh ketika bersalin pada materi kebidanan. Setidaknya latar belakang saya yang biologi dapat membantu saya memahami bacaan-bacaan tersebut, dan semuanya membantu saya untuk mengobati rasa keingin tahuan saya serta nilai plusnya dapat membantu saya melawan keresahan yang ada. Hehe.

Tapi membaca saja tidak cukup, akhirnya saya mencari berbagai video persiapan persalinan mulai dari video semacam seminar/kelas bersalin hingga vlog tertentu yang saya pilih yang kelihatannya ramah jiwa, jadi intinya pilih-pilih media belajar yang cocok untuk diri sendiri.

Singkat cerita, semua bekal sudah di rasa cukup. Saya sudah PD aja tuh ingin menghadapi persalinan. Tapi nyatanya, setelah bukaan lengkap, semua ilmu teori yang saya pelajari bubar total. Hehe. Lah terus gimana dong? Untungnya, bu dokter dan para bu bidannya komunikatif banget, dan saya juga ga segan-segan mengungkapkan dengan apa yang di rasa.
"Ini gimana cara ngedennya?" Pertanyaan yang agak konyol sih, sampai cara mengejanpun lupa. Hihi. Tapi semua itu dimaklumkan oleh tim medis dan justru lebih baik dikomunikasikan sehingga diberi tahu caranya untuk membantu persalinan.

Pusatkan tenaga saat persalinan ke area bawah tempat jalan lahir, seperti mengejan saat BAB. Pandangan mata melihat ke perut dan bayangkan si kecil yang dinanti ingin segera bertemu uminya. Tapi jangan pusatkan tenaga ke perut seperti sit-up, koneksikan pikiran dan tubuh agar bisa bekerja sama memusatkan tenaganya mengejan ke jalan lahir.
Jangan teriak "a.." jangan juga mingkem terus seperti menggigit sesuatu karena tenaga akan terkuras semua di sana. Tetap terus kendalikan pikiran dan respon tubuh untuk memusatkan tenaga ke jalan lahir. Dan yang terpenting jangan lupa dalam hati selalu minta pertolongan dari Allah agar di mudahkan semuanya.

#BecomeMomy

Diaper Sekali Pakai VS Clodi (Cloth Diaper)

"Clodi, cloth diaper is a solution for my baby"

Dulu Ubay suka di bedong, kata beberapa artikel yang saya baca, bedong salah satu cara untuk menghangatkan bayi dan menenangkan bayi karena seperti senyaman waktu di perut uminya. Kalau buat uminya sih, bedong salah satu cara supaya air pipisnya ga langsung tumpah ke mana-mana. Hehe.

Tapi sekarang Ubay udah aktif banget, dan bedong bukan lagi solusi supaya pipisnya ga langsung tumpah kemana-mana.
Kebayang khan gimana yang mau gendong Ubay kalau mau sholat terus kena air pipis? Hehe.
Awalnya saya pikir diaper jadi solusi paling ampuh. Saya beli yg katanya merk no.1 dan ada indikator kalau udah penuh terus berwarna, udah beli krim anti iritasinya juga. Oke, semua itu bekerja dengan baik.
Tapi umi perhatikan makin hari, oow.. Ubay is a boy, kalau diapernya penuh, bagian depannya kedesak karena gel diaper terisi air pipis. You know what I mean ya? Cause Ubay is BOY. Padahal itu baru 3 jam. Dan memang menurut beberapa artikel, mengganti diaper idealnya 3 jam sekali. Uminya jadi kasian liat Ubay, Uminya kalau masa haidnya lagi lama, kelamaan pakai pembalut berhari-hari ga nyaman, gimana Ubay yang baby BOY pake diaper kedesek gitu.

Akhirnya browshing cari solusi lagi. Namanya orang tua, semua juga mau ngasih yang terbaik buat anaknya. Dapet deh solusinya yaitu clodi, cloth diaper. Clodi is diaper bahan kain yang lembut banget di kulit, ga bikin baby BOY kedesek kalau clodinya udah penuh, udah gitu bisa dicuci dan dipakai berulang jadi ada tambahan nilai ekonomis dan go green juga. Hehe.

Jadilah Ubay pakai clodi seperti. *Bukan endorse ya. Hihi. Tapi kalau dalam keadaan tertentu masih pakai diaper yabg sekali pakai sih. Tinggal uminya yang rajin-rajin ngontrol Ubay. Tapi apaun itu, dengan keadaan baby yang berbeda-beda, setiap momy punya solusinya masing-masing. I just share, cause I have a solution from shared by other momy's experience.

#BecomeMomy