Tampilkan postingan dengan label Pikiran & Suara Hatiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pikiran & Suara Hatiku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Mei 2015

Terimakasih Untuk yang Terdekat

Terimakasih Untuk yang Terdekat

Hidup ini merupakan sebuah pilihan, termasuk memilih teman dekat yang baik. Sejatinya teman dekat yang baik adalah mereka yang selalu mengingatkan diri pada Sang Pencipta, yaitu Allah. Jika berada di lingkungan baru dan sulit untuk beradaptasi, maka bersabarlah. Semua orang boleh berteman, tapi yang menjadi teman baik hanya mereka yang berani mengingatkan diri pada Allah, betapapun diri sedang lalai, teman dekatlah yang tak segan untuk menegur tanpa rasa "ga enakan", karena memang sudah terbiasa dekat.

Apabila kita tidak selektif memilih teman dekat, saat diri sedang berada dalam fase labil atau "galau", maka masukan apapun akan berpengaruh meskipun hal tersebut merupakan hal yang buruk. Mengapa demikian? Karena untuk membuat seseorang menuruti "perintah" orang lain, atau semacam mendoktrin, cukup dengan dua cara, yaitu:
1. Membuatnya bahagia sebahagia mungkin
2. Membuatnya sedih sesedih mungkin
Masa labil termasuk kategori yang ke dua, yaitu masa "sedih", pada masa inilah ucapan atau doktrin apapun akan berpengaruh. Sedangkan siapa lagi yang akan memberi masukan entah sekedar menghibur atau ingin memberikan solusi selain orang yang terdekat, atau teman dekat? Ya, teman dekat sangat berpengaruh pada bentukan karakter seseorang. Oleh katena itu, lebih baik selektif dari awal untuk memilih hanya yang terbaik yang mengingatkan diri pada Allah yang boleh dekat.

Mengingat untuk mendoktrin seseorang cukup dengan dua hal yang di atas, itulah jawaban mengapa saat kegiatan "pelantikan" menjadi anggota suatu organisasi biasanya sengaja di setting dalam keadaan yang tidak biasa, entah dalam keadaan yang membahagiakan atau membuat sedih. Mengapa settingan itu dilakukan? Agar para anggota baru memiliki visi dan misi yang sama dengan organisasi tersebut sehingga perlu di doktrin terlebih dahulu. Namun biasanya, yang dilakukan ialah dengan cara membuat "sedih" para calon anggota seperti dilakukannya push-up, dibentak-bentak, dan banyak lagi yang serupa dengan hal itu. Setelah membuat calon anggota kelelahan dan sedih, biasanya barulah yang senior memasukkan doktrin-doktrin yang sesuai dengan visi-misi organisasi tersebut. Hal ini biasa dilakukan hanya pada beberapa organisasi saja, dan tidak menutup kemungkinan organisasi lain banyak yang menyampaikan visi-misi dengan cara yang lebih elegan.

Loh kok sekarang pembahasan mulai tidak fokus? Dari teman dekat mengapa hingga berbicara tentang organisasi? Mengapa organisasi ikut di bahas?

Ya, organisasi  merupakan sebuah wadah untuk mendapatkan teman yang lebih luas lagi, tentunya dengan visi dan misi yang sama. Meskipun sejatinya pemikiran manusia sangat beragam, namun apabila bisa dipertemukan dalam satu visi dan misi, maka siapa yang tidak senang denga hal tersebut? Sama halnya ketika seseorang menyukai club sepak bola tertentu yang bertemu dengan sesama pencinta club tersebut, tentunya sangat menyenangkan dan tidak segan lagi untuk bertukar cerita. Dari sinilah, dari organisasi dapat mempertemukan teman menjadi teman dekat, sehingga jika berniat untuk bergabung dalam sebuah organisasi, bergabunglah dengan mereka yang selalu mengingatkan kepada Allah. Meski suatu organisasi itu tidak mengutamakan pada agama tertentu, namun jika di dalamnya banyak orang yang baik, mereka akan selalu menghormati dan menghargai serta selalu menegur jika diri lalai terhadap kebaikan.

Mungkin pengalaman saya dalam berorganisasi sangatlah sedikit daripada orang lain. Namun setidaknya pengalaman yang sedikit ini dapat menjadi bekal dalam melangkah. Sempat saya mengikuti "beberapa" organisasi, namun kemudian saya keluar dari organisasi tersebut. Sebenarnya bukan karena tidak bisa membagi waktu, bukan juga karena mengikuti "beberapa" organisasi. Namun inti permasalahannya ialah karena berbeda visi dan misi. Visi dan misi tersebut dapat tercerminkan pada sikap dan ucapan secara global para senior yang sudah lebih lama bergabung di dalam organisasi tersebut. Mengacu pada kata "beberapa" organisasi, bukan berarti dalam satu waktu saya mengikuti banyak organisasi, namun kata "beberapa" yang saya maksud ialah, mengikuti suatu organisasi setelah beberapa lama kemudian tidak pernah temukan visi dan misi yang sama, lalu keluar dan mengikuti organisasi yang lain dengan harapan menemukan yang sama dalam visi dan misi.

Memutuskan untuk masuk dan keluar dalam sebuah organisasi bukanlah hal yang mudah. Hal ini dikarenakan mungkin akan berpengaruh pada rating kualitas kredibilitas diri di mata para aktivis. Namun ketika tidak adanya kesamaan visi dan misi, mengapa harus dipertahankan dan dilanjutkan? Apalah artinya juga melakukan suatu hal yang tidak didasari dengan kesesuaian hati dan pikiran? Dari sinilah kita harus sudah memiliki fondasi dasar "setia pada kebenaran". Salah satu cerminan setia pada kebenaran ialah "selalu mengingat Allah". Apalah artinya tergabung dalam suatu organisasi, saat adanya rapat, rapat tersebut tidak kunjung juga menemukan titik temu hingga waktu beribadah datang. Tidak ada kata break terlebih dahulu, dan yang mengingatkan justru ditegur "tanggung" katanya, padahal jam menunjukkan sudah penghujung waktu batas akhir dalam beribadah. Jadi, tinggal pilih saja, perintah ketua rapat atau perintah "Pencipta" ketua rapat?

Apalah artinya juga jika berlatih pada suatu event, kemudian tiba waktunya beribadah lalu izin untuk menunaikannya justru di tegur "tanggung" padahal sudah waktu batas akhir melakukan ibadah tersebut, namun ketika izin untuk pergi ke toilet langsung dipersilahkan. Jadi, mana yang lebih penting, aturan pelatih atau aturan "Pencipta" pelatih? Pergi ke toilet penting, beribadah juga lebih penting. Untuk apa terus bertahan dalam ketidak nyamanan dan tidak adanya keleluasaan dalam beribadah, sedangkan hidup ini adalah pilihan, seolah harus memilih lepaskan organisasimu atau lepaskan kepercayaanmu dalam beribadah (sama saja untuk melepaskan agamamu).

Mungkin banyak juga yang mengalami hal serupa ini. Tapi banyak juga yang bisa bertahan dan justru membuat sebuah perubahan di dalamnya. Bukan berarti menyerah di lingkungan tersebut, namun saya sangat memahami tentang kapasitas diri pada waktu itu, perlu adanya energi yang sangat besar untuk bergerak, namun energi pada waktu itu kapasitasnya memang belum cukup memadai. Tak perduli predikat apa yang akan disematkan oleh para aktivis, akhirnya memilih untuk keluar memang merupakan jalan yang terbaik, karena hidup memang benar-benar sebuah pilihan.

Setelah berjalannya waktu dengan naik-turunnya perjalanan, akhirnya temukan juga “tempat” yang benar-benar satu visi dan misi dengan diri. Banyak sekali cerita hikmah yang entah dapat diceritakan mulai dari mana, karena memang begitu banyaknya. Di tempat ini pula sedikit-demi sedikit merubah paradigma diri dalam memandang kehidupan. Di tengah hiruk-pikuk perjalanan yang berkelok, di tempat ini selalu mengajarkan untuk tetap berjalan “lurus” agar tetap setia kepada kebenaran. Rasanya seperti sedang dituntun oleh Allah melalui mereka yang berada di tempat ini dan semoga mereka selalu diberkahi oleh Allah dengan segala kebaikan yang mereka sampaikan.

Bersyukur sekali rasanya ketika diri ini menyadari telah temukan tempat yang di dalamnya banyak teman dekat dan tentunya satu visi dan misi. Diberikannya kesempatan untuk memilik teman dekat seperti mereka rasanya seperti mendapatkan hadiah yang berlipat-lipat dari Sang Pencipta. Namun memang hidup ini harus terus berjalan dan melanjutkan kehidupan baru ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Sulit sekali untuk meninggalkan tempat ini, namun untuk berhenti melangkah dengan segala kenyamanan pun bukan langkah yang terbaik. Suka atau tidak suka, diri ini harus berkembang dan pastinya akan menghadapi tantangan yang lebih besar lagi. Tahun ini seharusnya semakin melangkah menuju tantangan yang lebih besar lagi. Harapan tentunya akan selalu terpancar, bahwa semoga dalam episode kehidupan baru akan temui lagi kenyamanan seperti ini, memperbanyak teman dekat dan yang sudah dekat pastinya akan selalu menjadi tempat berlabuh untuk meluruskan kembali jalan ketika langkah mulai menggoyah.
   

Jumat, 11 Juli 2014

Melawan Lupa, Menatap Masa Depan

Melawan Lupa, Menatap Masa Depan
Dalam diam ku menyimak, dalam diam ku menyimpan, dalam diam ku berkecamuk. Akhirnya resah ini terlalu penuh untuk disimpan sendiri hingga hari ini meluap dan dan tumpah ke dalam tulisan. Aku adalah bagian dari negeri ini. Jangka waktu lima tahun itu tak sebentar. Sedikit atau banyak, kelak kepemimpinan sang pemimpin pasti akan berpengaruh terhadap kehidupan seluruh komponen masyarakat, termasuk diri ini.

Apalah jadinya jika negeri ini dipimpin oleh boneka? Apalagi yang menjadi dalangnya seorang perempuan, dan bonekanya seorang lelaki? Negeri ini bukan negeri kerajaan, raja telah tiada, kemudian anaknya yang meneruskan tahta, berbagai cara dilakukan termasuk mengutus boneka. Negeri ini butuh pemimpin yang bisa memimpin, mampu mempengaruhi dan menggerakkan seluruh komponen masyarakat. Memang bohong, jika seorang pemimpin mampu memimpin negerinya sendirian, pastinya seorang pemimpin harus melibatkan banyak pemikir  hebat dan para pekerja keras untuk memakmurkan negeri ini, namun bukan berarti menjadi boneka dari hebatnya mereka yang memiliki gagasan.

Namun, entahlah... Siapapun yang akan menjadi pemimpin negeri ini, semoga adalah pilihan yang terbaik. Semoga negeri ini dapat lebih makmur dan sejahtera, tentunya dengan keutuhan yang ada, utuh seutuh-utuhnya, jangan sampai bagian apapun dari negeri ini kembali diambil oleh negeri orang. Jika melawan lupa, negeri ini telah kehilangan berapa  bagiankah karna diambil negeri orang? Pulau yang seharusnya menjadi aset untuk anak-cucu dari negeri ini telah melayang. Melawan lupa, menatap masa depan. Semoga masa lalu dapat menjadi sebuah pelajaran dalam kehidupan ini untuk menapaki masa depan yang lebih cerah. Aamiin Yaa Rabbal alamiin.

Sabtu, 14 Juni 2014

Milik Siapakah Jannah Itu

Kita adalah satu.
Namun mengapa justru kita sendiri yang membeda-bedakannya menjadi banyak golongan?
golongan A, B, C, hingga Z.
Semua terkadang terkesan memperdebatkan suatu hal yang mestinya tidak dijadikan sebuah perpecahan.

Golongan A dengan bangganya menunjukkan bahwa ia yang paling benar, ia dengan percaya diri menunjukkan perbedaan cara pandangnya pada dunia.
Pun demikian dengan golongn B, C, hingga Z.
Semua merasa benar dengan cara pandang masing-masing seakan hanya golongan mereka masing-masing yang akan masuk jannah.

Apakah jannah itu memang hanya milik golongan A?
Apakah golongan lain tak pantas masuk ke jannah-Nya? B, C, hingga Z?
Atau orang lain yang tak membeda-bedakan golongan karena berparadigma jika kita adalah satu, maka kebenaran hanya ada pada satu sumber, apakah tak pantas untuk menggapai Jannah-Nya pula?

Jika kita menyadari bahwa kita tak tahu siapa yang benar-benar mendapat naungan-Nya, mengapa terkadang kita menyombongkan diri berpayung menyatakan diri merupaksn salah satu golongan tertentu seakan merasa paling benar?

Ini radikal, ini ekstrim, tapi memang nyata.
Cara pandang setiap orang pasti beda, namun sumber kebenaran yang hakiki hanya satu.
Maka dalam menggapai kebenaran yang hakiki tersebut, sanggupkah kita mencari kebenaran tanpa membeda-bedakan antar golongan?

Sanggupkah kita tidak terlalu menyombongkan diri merasa yang paling benar?
Sanggupkah kita bersama saling membahu, saling melengkapi & saling meluruskan tanpa saling menyakiti di tengah perbedaan paradigma yang ada?

Just post something.
VSE, 2014.

Senin, 07 April 2014

Hanya Butiran Debu, Tak Pantas untuk Membesarkan Kepala

Mungkin ini terkesan seperti sebuah pembelaan, tapi sebenarnya saya sendiri tak perduli orang lain berkata apa tentang saya. Namun ketika tangan ini tak tahan lagi, sepertinya saya harus angkat bicara melalui tulisan tentang sebuah sudut pandang dari sisi “Saya”. Beberapa waktu lalu saya pernah mempublikasikan tentang pencapaian saya melalui media sosial. Mungkin ada beberapa pernyataan positiv maupun negatif yang merespon hal tersebut. Ada yang mengapresiasi, namun ada juga yang mengingatkan agar tak menyombongkan diri. Sebenarnya saya menayangkan pencapaian di masa lalu tersebut hanya sekedar “flash back”. Bahwa jalan yang berliku begitu terasa dalam hidup saya. Bagi mereka yang tahu seluk-beluk saya secara mendalam, pasti akan mengerti posisi saya. Namun bagi yang baru mengenal, saya mendapat pelajaran baru dalam kehidupan yang indah ini.
 Sekitar tiga sampai empat tahun yang lalu, saya pernah mengikuti casting sebuah FTV kelas televisi Nasional, tepatnya sebelum nenek saya meninggal. Saya ditawari guru saya untuk mengikuti casting, saya pikir bahwa ini adalah salah satu impian saya, mungkin ini adalah jalan saya. Oleh karena itu, saya sempat meminta izin untuk absen dari pembelajaran di kelas. Karena guru yang menawarkan saya adalah wakil kepala sekolah bagian kurikulum, otomatis sangat disetujui dan mendapatkan dispensasi.
Saya dan teman-teman mengikuti pelatihan demi pelatihan untuk mengikuti casting tersebut. Berhari-hari kami susah payah mengikuti pelatihan tersebut agar dapat diterima. Pada waktu itu, kami sampai mengorbankan belajar di sekolah demi casting tersebut. Pagi berganti siang, hingga siang berganti malam. Akhirnya beberapa waktu, kami terpaksa harus pulang malam karena kegiatan pelatihan seperti mengolah akting dalam teater. Kami benar-benar berantusias terhadap pelatihan tersebut karena berharap akan dipilih dan dapat menjadi salah satu pemeran di FTV tersebut.
Singkat cerita, hari demi hari mulai terasa melelahkan. Peranpun tak jelas untuk siapa dan bagiannya apa saja. Iming-iming yang membumbung tinggi dari pelatih hanya sebagai bumbu latihan saja. Nyatanya, tak ada satupun sebuah kepastian. Hingga suatu ketika pelaksanaan pembuatan FTV tersebut dilakukan di sebuah keraton. Almarhum nenek saya sampai sempat menengok saya untuk melihat saya memerankan sebuah peran dalam FTV televisi kelas nasional. Beliau menunggu dari pagi hingga siang namun satupun peran tak ditentukan untuk diperankan oleh saya dan teman-teman saya. Akhirnya almarhum nenek saya pulang bersama paman saya karena mungkin sudah kelelahan. Sayapun memakluminya, namun justru saya begitu terharu bahwa almarhum nenek saya sangat antusias dengan kegiatan yang saya lakukan, namun sayang justru saya mengecewakannya karena tidak memerankan satupun sebuah peran.
Siang hari menjelang sore, akhirnya saya dan teman-teman saya dikumpulkan untuk mengambil bagian dari peran yang terdapat di cerita FTV tersebut. Namun sayang, kami hanya menjadi pemeran figuran saja. Meski figuran, saat pengambilan gambar terus saja diulang berkali-kali. Kami pikir, kami akan ada di layar TV dalam durasi selama waktu pengambilan adegan, karena itu kami masih berpikir positif dan berharap bahwa akan diberi peran yang jelas, yang sekiranya sebanding dengan perjuangan kami terus dan terus berlatih.
Hari pertama pengambilan adegan di sebuah keraton akhirnya selesai. Kemudian berlalu beberapa waktu dalam pengharapan yang masih tak jelas, singkat cerita lagi bahwa kami di minta untuk datang di tempat lokasi pengambilan adegan pada malam hari di sebuah sekolah tinggi kesehatan yang di sulap menjadi tempat pemberangkatan TKI dalam cerita FTV tersebut. Teman-teman saya tidak ditemani oleh keluarganya, hanya satu orang saja yang ditemani oleh kakaknya. Sedangkan saya beruntung bahwa saya ditemani oleh ibunda saya tercinta. Ibu saya menyempatkan waktunya untuk menemani saya, anak perempuan satu-satunya yang ibu saya miliki.
Malam itu adalah adegan di mana tokoh utama beradegan menjadi seorang pekerja kasar semacam kuli pengrajin rotan. Saya dan teman-teman di minta untuk menjadi pemeran figuran sebagai kuli pekerja yang sedang mengantri untuk absen masuk. Karena adegannya menjadi kuli, maka kami di minta untuk mengenakan baju yang compang camping lusush seperti layaknya kuli yang telah bekerja keras seharian. Di sinilah timbul gejolak tekanan yang begitu besar. Di sinilah timbul sebuah pilihan untuk mengorbankan keyakinan atau memilih kesenangan sesaat. Waktu itu baju yang saya kenakan dianggap terlalu bagus untuk menjadi figuran seorang kuli. Saya hampir di depak untuk tidak mengikuti peran tersebut. Namun waktu itu saya berpikir bahwa sangat disayangkan bahwa ketika sudah susah payah untuk mengikuti sebuah pelatihan-demi pelatihan hingga mengorbankan sekolah, waktu, dan tenaga, serta sudah meminta ibu saya untuk menemani saya malam hari, mengapa pupus begitu saja hanya karena hal yang sepele seperti baju yang dianggap kurang mewakili peran. Akhirnya saya dan teman-teman saya mempunyai ide bahwa membalik baju sehingga terlihat lebih compang-camping. Namun memang ada saja alasan yang terlalu mengada-ada. Ternyata menurut penata rias mengatakan bawa saya tetap tidak bisa berperan untuk menjadi figuran seorang kuli pengrajin rotan.
Tahukah alasannya apa? Karena saya memakai kerudung. Penata rias mengatakan bahwa kerudung saya masih terlalu bagus, harus ada yang lebih jelek lagi. Akhirnya saya mengganti kerudung dengan yang lebih lusuh. Namun apa? Saya masih di anggap belum tepat untuk memerankan peran tersebut. Lantas apa yang dikatakan oleh penata rias tersebut? Ia mengatakan bahwa saya lebih baik melepas kerudung. Hah? Apa? Ini benar-benar gila! Saya pikir cerita ini hanya ada di film-film saja. Saya pikir kejadian ini hanya cerita dari mulut-ke mulut saja. Namun apa? Ternyata saya sendiri yang mengalami tekanan ini.
Tahu apa rasanya? Remuk semua harapan. Sakit begitu mendalam rasanya. Dia pikir saya apa? Dia pikir, keyakinan saya bisa di bayar hanya dengan uang Rp 25.000 saja? Apa? Sampai berapapun bayarannya dan sampai kapanpun saya tidak akan lakukan itu, dan seluruh dunia akan mengetahuinya! Serentak saya kesal dan uring-uringan ingin pulang. Saya begitu malu pada ibu saya, saya merasa mengecewakan ibu saya, sudah jauh-jauh dan larut malam ibu saya menemani saya, namun hinaan inikah yang di dapat? Mengapa saya berada di tempat seburuk itu? Mengapa saya berada di tengah orang selalai itu? Sebenarnyapun hati saya sudah meragu ketika tidak adanya kejelasan peran. Namun saya tetap bertahan karena saya percaya pada kenalan guru saya dan saya menghargai usaha guru saya untuk menunjukkan jalan untuk murid-muridnya. Namun ternyata siapa yang akan tahu bahwa jadinya akan seperti ini. Maka, setelah kejadian tersebut, malam itu juga saya langsung pulang dan memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Biarlah semua usaha latihan teater yang berhari-hari berlalu begitu saja. Biarlah semua itu menjadi sebuah angin lalu.
Setelah beberapa bulan kemudian setelah kejadian tersebut, nenek saya meninggal dunia. Belum sempat beliau melihat saya di layar kaca kelas nasional, belum sempat FTV tersebut tayang, beliau sudah tiada padahal saat di keraton, beliau sampai menemani saya hingga berjam-jam.
Saya masih ingat bahwa film tersebut ditayangkan larut malam. saya melihat bahwa saya ada di layar kaca ketika ada di keraton dan hanya menjadi seorang pemain figuran, yaitu penonton tari topeng dengan durasi hanya kurang dari tiga detik. Saya hanya tertawa melihat hasil FTV tersebut. Untunglah saya tidak menuruti penata rias yang telah buta hati tersebut, rasanya tak ada artinya sekali saya di hadapannya. Memang dia siapa mengatur kepercayaan saya? Ternyata sedikitpun adegan di tempat lokasi sekolah tinggi kesehatan tidak digunakan dalam penayangannya, hanya menjadi prolog sekilas saja. Untunglah saya cepat memutuskan pilihan untuk meninggalkan kegiatan tersebut. Namun yang naas ialah, saya masih teringat dengan sekelompok ibu-ibu yang penampilannya seperti ibu-ibu pengajian, justru ia menuruti perkataan penata rias tersebut. Semoga ini adalah sebuah pelajaran berharga untuk semua yang membaca ini, terutama untuk saya sendiri.

Berkaitan dengan itu, beberapa waktu lalu saya membagi cerita di timeline sebuah media sosial berwarna biru tua hanya bermaksud untuk flash back saja agar menjadi rambu-rambu bagi saya sendiri. Namun ternyata ada beberapa yang beranggapan bahwa kata-kata saya agak menyombongkan diri, maka inilah pelurusan yang saya lakukan. Bahwa kalimat yang seolah menyombongkan diri tersebut perlu diketahui cerita yang sebenanya agar tak adanya suatu kesalah pahaman yang terjadi. Karena justru maksud saya adalah untuk mengambil hikmah di dalamnya. Suatu kewajiban bahwa saya harus menyampaikan suatu hal yang saya ketahui untuk menjadi pelajarandan hikmah bagi orang lain, termasuk dengan yang saya alami sendiri. Tak ingin saya menyombongkan diri karena saya hanya sebutir debu. Tak pantas saya menyombongkan diri dan membesarkan kepala karena ada Yang Maha Segalanya, Maha Pencipta Alam Semesta ini, Maha Sempurna, yaitu Allah SWT. Semoga kita semua selalu diberi-Nya petunjuk. Aamiin...   

Jumat, 14 Februari 2014

Sampaikanlah Kebenaran Meskipun Seberat Apapun Itu


"25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi) .
Daging khinzir babi diharamkan.
4000 ZAT KIMIA BERACUN ADA PADA SEBATANG ROKOK.
PATUTNYA ROKOK DIAPAKAN?"
[Taufik Ismail dalam karya "Tuhan Sembilan Senti"]

            Itulah sepenggal dari puisi yang biasa saya bacakan. Puisi seorang pujangga yang sangat inspiratif, yaitu Pak Taufik Ismail. Semua bermula dari sebuah acara memperingati hari jadi kabupaten, saya ditunjuk menjadi perwakilan siswa untuk meramaikan acara seni. Saya dilatih oleh guru-guru yang begitu hebat, ilmu-ilmu yang diberikanpun begitu luar biasa. Inilah pertama kalinya saya berada di depan panggung untuk membacakan puisi. Meskipun tak megah, namun cukup membuat gemetar seluruh badan. Karena konteksnya memperingati hari jadi kabupaten, puisi yang saya bacakan saat itupun berbahasa daerah. Tak di sangka, ada seorang yang terkesan saat saya membecakan puisi, kemudian beliau memberikan informasi bahwa akan di adakan suatu perlombaan membaca puisi se-kabupaten. Tentu saya begitu terkejut dengan ditunjuknya saya sebagai perwakilan kelas. Awalnya saya sedikit meragu, namun motivasi dari para guru begitu kuat dan do’a orang tua selalu menyertai, alhamdulillah latihan yang begitu intens membuahkan hasil juga. Tak di sangka Allah memberikan jalan yang begitu indah, alhamdulillah meskipun tak menjadi pemenang, namun dengan mendapatkan juara 2 sekabupaten, inilah sebuah titik awal yang baik. Itulah mengapa sebuah kata bijak mengatakan bahwa ambillah kesempatan meskipun sekecil apapun, seperti sungai-sungai kecil dari hulu, namun pada akhirnya menuju lautan yang begitu terbentang luas. Meskipun sebuah kesempatan awalnya terlihat hanya sederhana, namun justru dari hal yang sederhana itulah yang akan membawakan ke arah kesempatan yang luar biasa.

            Bermula dari titik awal yang begitu indah yang Allah berikan, mulailah saya sering ditunjuk menjadi perwakilan dari sekolah setiap ada acara-acara baik formal maupun non formal, baik acara perpisahan, acara rapat guru dengan orang tua murid. Pada puncak perjalanan, saya tak menduga sebelumnya, ternyata Allah memberikan rahmat-Nya dengan cara yang begitu indah. Saya kembali ditunjuk untuk menjadi perwakilan sekolah dalam perlombaan membaca puisi se-provinsi. Berkali-kali saya berlatih bersama guru-guru yang begitu hebat. Saat hampir hilang energi dan saat perasaan pesimis mulai menerpa, para guru selalu memotivasi dan meyakinkan bahwa saya pasti bisa. Tentunya do’a dari orang tuapun selalu menyertai dalam setiap langkah ini. Alhamdulillah, puji syukur atas segala nikmat dari Allah, ternyata segala usaha pelatihan yang telah diberikan oleh para guru dan kekuatan do’a dari orang tua, mengantarkan saya untuk memenangkan perlombaan menjadi juara satu seprovinsi. Subhanallah, nikmat yang Allah beri sungguh melimpah tiada batas.   

            Suatu ketika, sekolah mengikuti sebuah perlombaan untuk mendapatkam predikat sekolah sehat. Saat tim penilai sekolah sehat datang, terdapat sesi sambutan. Beruntung sekali saya berkesempatan untuk mengisi acara sambutan dengan membacakan puisi “Tuhan Sembilan Senti buah karya Pak Taufik Ismail”. Sekali lagi, saya begitu merasakan keberkahan yang Allah berikan. Tanpa di duga, tim penilai dari dinas memberikan reward dan sebuah pin emas bergambar anti rokok. Begitupun dengan kedatangan tim penilai yang berbeda pada waktu yang lain, saya kembali diberikan reward dan berlanjut hingga penilaian ketiga pada waktu yang berikutnya pula. Alhamdulillah, sungguh rahmat dari Allah begitu tiada terkira. Hingga seorang guru yang baru bertugas di sekolah saya bertanya, bahwa apakah saya sering berpuasa? Atau amalan apakah yang saya lakukan? Guru tersebut begitu antusias ingin mengetahuinya. Namun saya hanya menggeleng dan tersenyum malu sambil menunduk. Yang jelas, ini semua karena kuasa dari Allah, dan saya sebagai manusia biasa hanya mampu berusaha semampu saya. 

            Di balik segala kemudahan, justru Allah memberikan sebuah ujian yang tak terduga. Meski begitu berat di rasa, namun saya meyakini bahwa ada hikmah di baliknya. Seperti seorang siswa yang ingin naik tingkatan kelas, tentu harus ada ujian yang di tempuh agar kualitas kemampuan dapat terukur dan jika lulus, berarti sudah mampu mengikuti kelas selanjutnya yang tingkatannya lebih tinggi. Begitupun dengan kehidupan, Allah memberikan cobaan dan ujian agar manusia mampu mengikuti tingkat kualitas kehidupan yang lebih tinggi lagi. Waktu itu di daerah saya baru ada pemilihan bupati baru. Kemudian diadakan semacam acara syukuran dan setiap sekolah diberi kesempatan untuk mengajukan perwakilan dalam acara tersebut. Saat itu saya satu-satunya yang di tunjuk untuk mengisi acara dengan membacakan puisi. Saya begitu tak nyaman berada di tengah deretan pejabat. Tempat di mana saya berada terlihat berkabut seperti kebakaran. Nafas saya begitu sesak dan terasa pengap seperti sedang di cekik. Ternyata asap-asap itu bukanlah asap dari gedung yang terbakar di lahap api. Namun justru berasal dari mulut-mulut para pejabat. Dengan santainya mereka menikmati isap-demi isapan rokok dan tak perduli keadaan sudah seperti gedung yang terkena kebakaran. Tiba-tiba saya dipanggil untuk maju membacakan puisi di depan bupati dan para pejabat tersebut. Rupanya puisi yang saya bacakan, yaitu “Tuhan sembilan senti karya Pak Taufik Ismail” membuat mereka tersinggung. Tak lama setelah saya membaca bait-demi bait, tiba-tiba pembawa acara dengan cara yang tidak hormat menyuruh saya untuk berhenti membacakan puisi dan turun dari panggung. Dengan perasaan yang begitu hancur, saya menyudahi membacakan puisi dan turun dari panggung. Dalam benak saya, perasaan sakit begitu terasa karena dipermalukan di depan umum seperti itu. Padahal, saya hanya menyampaikan sebuah kebaikan. Saya bukan seorang ustadzah yang mampu berdakwah, namun dengan menyampaikan suatu hal yang benar termasuk berdakwah pula. Niat saya hanya untuk menyampaikan hal benar yang saya ketahui, bukan menggurui. Karya Pak Taufik Ismail begitu indah dan bermakna. Satra bukanlah hanya soal keindahan semata, bukanlah sebuah omong kosong belaka, namun di dalamnya mengandung arti yang begitu mendalam.  

            Begitu pilu yang saya rasakan saat melangkahkan kaki selangkang-demi selangkah. Tetes-demi tetes air matapun semakin bercucuran. Rasanya ingin segera mengakhiri hari tersebut dan segera pulang ke rumah. Para pejabat semakin berbisik, entahlah apa yang ada dalam benak mereka. Entah menghinakan saya, entah menertawakan, entah kasihan, atau apakah, entahlah. Saat saya sudah turun dari panggung, ayah saya seolah ingin langsung meraih saya dari cekamnya suasana malam itu. Tentulah sebagai ayah, ingin melindungi anaknya sesulit apapun keadaan. Namun tiba-tiba saya dibangunkan kembali oleh perasaan remuknya dipermalukan. Ayah saya memberi tahu bahwa saya dipersilahkan untuk naik ke atas panggung kembali. Pengisi acara yang lainpun akhirnya mencari saya kembali. Ternyata Allah mengirimkan bala bantuan pada saya melalui seorang kepala dinas. Beliau mengatakan bahwa sebenarnya isi puisi yang saya bacakan belum selesai dan pesan moral yang ada di dalamnya belum tersampaikan. Inilah sebenarnya alasan saya diminta datang pada acara tersebut. Dengan menatap ayah saya yang memberikan pandangan penguatan bahwa saya pasti bisa, akhirnya saya kembali membacakan isi puisi tersebut setelah dipersilahkan oleh kepala dinas.
"25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi) .
Daging khinzir babi diharamkan.
4000 ZAT KIMIA BERACUN ADA PADA SEBATANG ROKOK.
PATUTNYA ROKOK DIAPAKAN?"

            Allahuakbar... Allahuakbar...Allahuakbar... Kuasa Allah begitu nyata. Sebagaimana firman Allah dalam Qur’an Surat Al-Insyirah bahwa setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan. Alhamdulillah ternyata saya masih dilindungi dari orang-orang yang berniat mempermalukan saya saat itu. Maka, sesulit apapun kebenaran untuk di ungkapkan, namun hendaknya kebenaran tetaplah di sampaikan. Meskipun sakit dan pilu di rasa, namun kebaikan pasti akan menyertai kebenaran.

             Setelah acara tersebut berakhir, keesokan harinya banyak guru yang bertanya mengenai kejadian pilu yang saya alami. Meski perasaan masilah hancur, namun saya berangsur memulih. Para guru selalu memberikan penguatan, terutama guru-guru yang selama ini melatih saya. Namun sejak kejadian tersebut, saya sempat berpikir untuk mengakhiri perjalanan saya dalam kemegahan panggung. Entah karena perihnya luka itu belumlah pulih, ataukah memang inilah firasat saya bahwa akan ada jalan lain yang saya lalui, yang jelas inilah sebuah perjalanan hidup yang harus di tempuh dan harus memilih arah langkah. Namun, masih ada satu hal yang menjadi impian saya, saya ingin berdiri di atas panggung sangat megah untuk membacakan puisi karya pujangga yang saya idolakan, yaitu Pak Taufik Ismail. Tak lama kemudian, Allah mengabulkan keinginan saya tersebut. Inilah akhir perjalanan saya dalam membacakan puisi di atas panggung. Sebuah penutup yang begitu mengesankan. Saya di undang untuk mengisi acara hari kesehatan nasional. Acaranya begitu meriah. Seluruh dokter berpangkat dan kepala puskesmas dari berbagai daerah menghadiri acara tersebut. Saya sangat senang berada di tengah-tengah orang super. Saat saya masuk ke dalam gedung, saya begitu takjub dengan gedung aula yang begitu megah. Langsung mata sayapun tertuju pada panggung. Begitu luas nan megahnya panggung tersebut. Layar di sebelah kanan maupun kiri menambah memperjelas setiap orang yang berada di atas panggung. Saat saya dipanggil, perasaan begitu bahagia saya rasakan. Seolah tak percaya saya berada di panggung semegah ini, namun ini nyata. Inilah seperti mimpi yang menjadi nyata. Maka memang benar, setiap hasil perbuatan adalah bermula dari sebuah niatan. Saya berdiri hanya berniat untuk berbagi ilmu, saya berdiri hanya untuk menyampaikan hal yang benar, meskipun sesulit apapun itu, kebenaran tetap harus di sampaikan. Subhanallah, nikmat dari Allah memang begitu nyata.

Februari 2014

Senin, 30 Desember 2013

Dalam Dekap Hangatnya Sore Hari Saat Ku Mengingat-Mu



Sore menyambut malam. Menantikan datangnya bulan yang berchaya akibat pantulan sang matahari dari arah yang berlawanan. Sejenak, bumi ini terasa terhenti tatkala ku berbaring terkapar sambil menahan rasa sakit. Pikiran entah melayang ke sana-ke mari. Satu pertanyaanku, apakah aku benar-benar masih hidup? Ataukah ini hanyalah sebuah mimpi belaka? Aku seakan merasakan ini begitu fana. Aku begitu takut ketika nanti saat aku membuka mata dan aku sudah tiada lagi, tinggallah berbagai pertanyaan yang harus ku jawab  bahwa untuk apakah umurku selama ini?

Aku coba berdiri dan bertanya kembali dalam benak, jika ini begitu fana, siapakah aku? Apakah aku ini? Untuk apakah aku ini ada? Apa sajakah yang telah aku perbuat? Apakah hidup itu? Harus bagaimanakah aku ini? Jika suatu hari aku ditanya oleh malaikat-malaikat, akankah aku mampu menjawabnya? Aku begitu takut. Siapakah yang dapat menolongku? Apakah orang tuaku yang akan membantuku? Selama ini aku hidup begitu bergantung dengan orang tuaku. Hal yang tak mampu aku lakukan pastilah orang tuaku membantuku. Namun jika tiba waktunya nanti, akankah satu dengan yang lain masih bisa membantu sedangkan ia sendiri akan ditanya dan dipertanggungjawabkan seluruh yang ia lakukan? Otakku seakan melumpuh, tak mampu memikirkan hal yang lebih jauh lagi. Aku begitu takut dan semakin larut dalam kelam.

Aku terus termenung ditengah detik waktu yang terus bergulir maju. Aku berbaring kembali dan terus termenung. Ragaku di sini, namun entah seakan nyawaku melayang nyaris tak menyatu dengan raga ini. Dalam galau bimbang yang teramat sangat, aku terus berpikir keras. Apa yang harus aku lakukan? Aku begitu takut dan semakin larut dalam cekaman. Dalam hati aku menangis, merintih menahan sakit yang ku rasa pada ragaku ini dan menahan rasa takut yang mencekamku. Aku begitu gelisah dan bertanya pada ayahku. Meski ingin rasanya ku menangis, tapi ku utarakan maksudku dalam canda. Namun sepandainya anak menyembunyikan gelisahnya, orang tua pasti mengetahuinya. “Berdzikirlah”. Hanya itu yang ia katakan padaku. Selintas satu kata sederhana, namun penuh dengan makna yang begitu berarti.

Ya, kini aku sadar ada hal yang salah padaku ini. Rupanya aku telah terlampau batas, aku memikirkan hal yang tak seharusnya aku pikirkan. Dibalik gelisah ini, ada Yang Maha Mendengar, Maha Menolong, Maha Memberi Petunjuk. Dialah Allah, Tuhan semesta alam. Yaa Rabb, mungkin lewat sakitku ini, Engkau sampaikan pesan penting ini padaku, agar aku selalu mengingat-Mu dalam setiap hela nafasku. Engkau selalu ada dan memperhatikan setiap gerak-gerik hamba-Mu. Aku tersadar sagala yang aku lakukan pastilah tak lepas dari pengawasan-Mu. Ketika aku hampir melampaui batas dan terlalu asyik dengan duniaku yang fana, Engkau ingatkan aku lewat hal-hal yang tak mungkin aku dapat menduganya. Mungkin jika Engkau tak beri aku sakit, aku tak akan jera dan terus asyik dalam dunia fana ini. Namun Engkau memang Maha Bijaksana, Engkau mengetahui segala yang aku butuhkan. Aku membutuhkan pertolongan-Mu, aku membutuhkan uluran kasih sayang-Mu, dan Kau selalu hadir membawa jawaban melalui berbagai perantara, seperti melalui sakit ini dan Engkau luruskan dengan memberi hikmah melalui orang yang sangat aku sayangi, yaitu ayahku. Yaa Allah, terimakasih atas Kasih-Mu. Aku mohon ampunan-Mu. Aku ingin lebih dekat dengan-Mu. Aku ingin lebih mengenal-Mu. Aku ingin lebih baik lagi dari sebelumnya, aku ingin menjadi hamba-Mu yang taat. Yaa Allah, terimalah do’aku ini. Aamiin.