Selasa, 27 September 2016

Ku Titipkan Sebagian Kenangan pada Tulisan ini

Mungkin inilah alasan mengapa sudah satu tahun terakhir ini tidak bisa move on, menyimpan segala kebahagiaan hanya untuk sendiri.
Move on dari kesedihan itu sulit, namun ternyata lebih sulit lagi move on dari kebahagiaan.

Di sinilah tempat saya menimba ilmu. Di dalamnya banyak sekali kenangan. IAIN Syekh Nurjati Cirebon Tadris IPA Biologi. Di tempat ini saya merasakan kenyamanan menjadi "diri saya sendiri". Just be my self. Beruntungnya saya dipertemukan oleh warga Bio B (teman sekelas saya selama 4 tahun), the kru lab (teman seperjuangan di laboratorium), para dosen yang rasanya seperti orang tua sendiri di kampus, teman sekamar ma'had, kelompok KKN Kliwed. Semuanya sangat berarti dalam perjalanan hidup saya, mereka sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter saya. Bersama mereka, saya dapat menemukan tentang siapa "diri saya".
Memang ada kalanya dalam hidup ini jatuh bangun, namun mereka tidak membiarkan saya begitu saja ketika terjatuh. Dibangunkannya lagi saya oleh mereka hingga saya terbangun kembali.

Dulu saya pikir setelah lulus dan di wisuda saya akan begitu bahagia karena mendapatkan hasil yang telah dinanti selama 4 tahun. Namun nyatanya semua tak sesuai dengan yang terpikirkan. Berpisah dari mereka ternyata adalah hal yang tersulit dari langkah perjalanan hidup ini. Seperti nahkoda yang kehilangan kompasnya, tak tahu arah pulang, tak tahu arah tujuan, kurang lebih seperti itulah saya ketika harus berpisah dengan mereka. Namun itulah hidup, harus terus berjalan. Senyaman apapun masa lalu, jika sudah lulus dalam step masa itu, haruslah menapaki step kehidupan yang lebih tinggi lagi dan naik kelas kehidupan.

Bersamaan dengan terselipkan rindu di dalamnya, kutitipkan sebagian cerita ini dalam tulisan untuk melegakan hati. Berharap sedikit - demi sedikit dapat move on dan bisa melanjutkan step kehidupan dengan lebih tenang. Bukan untuk melupakan, hanya saja untuk dapat melanjutkan langkah ke depan tanpa membandingkan dulu dengan sekarang. Karena kini sudah saatnya menjadi pembelajar cepat.
Bersamaan dengan rindu yang terselipkan juga ada do'a untuk mereka agar semuanya selalu diberikan kecukupan rizqi, baik itu berupa kesehatan dan segala kebahagiaan.
Terimakasih untuk segala bahagia yang telah tercipta, dan saya beruntung dapat menjadi bagian dari kalian pada masa itu.

Kamis, 15 September 2016

Sebuah Sudut Pandang: Karya dan Kaitannya dengan Kebutuhan Manusia



Sebuah Sudut Pandang:
Karya dan Kaitannya dengan Kebutuhan Manusia


Guru
Tak perlu melihat siapa ia kini dan nanti.
Ilmu seorang guru,
nilai-nilai ajaran luhurnya
akan selalu terpatri dalam hati muridnya,
yang pernah berguru padanya.
(Vivi Sophie Elfada)


Sebuah karya yang dihasilkan oleh insan, entah dihargai setinggi-tingginya ataupun tak terlalu dihiraukan oleh penikmat karya, point yang penting ialah MASIH dapat berkarya. Berhentinya seseorang dari sebuah karya yang pernah membuat namanya muncul dipermukaan khalayak umum adalah sebuah kemunduran besar. Seseorang yang dapat mempersembahkan karyanya untuk publik, berarti ia telah berada dalam tahapan aktualisasi diri yang merupakan tingkatan kebutuhan manusia tertinggi pada Piramida Maslow. Dengan kata lain, ketika seseorang tidak lagi mampu menghasilkan karya pada publik, berarti ia sedang memenuhi kebutuhan manusia yang berada pada tingkatan lebih rendah dari itu, bisa jadi bahkan sedang berapa pada kebutuhan dasar manusia.
Tulisan ini terinspirasi dari Bapak Prof. Dr. Maksum, M.A yang pernah memperkenalkan piramida Maslow pertama kali pada saya ketika semasa berkuliah. Piramida Maslow memperlihatkan terdapat lima tingkat kebutuhan manusia, urutan tersebut mulai dari tingkatan dasar atau terendah hingga tertinggi  ialah: 1) physiological, 2) safety, 3) Love/Belonging, 4) Esteem, 5) Self-actualization. Apabila manusia belum dapat memenuhi kebutuhan dasar atau terendahnya, yaitu physiological atau kebutuhan fisik, maka otomatis ia tidak akan mampu memenuhi tingkat kebutuhan yang ada di atasnya. Sebagai contoh ialah bagaimana bisa seseorang dapat menerbitkan sebuah karya berupa buku best seller yang merupakan sebuah aktualisasi diri jika kebutuhan dasar fisik dari kehidupannya saja tidak terpenuhi? Apakah tanpa makan, tanpa minum, tanpa pakaian, tanpa rumah, seseorang dapat menjadi penulis buku best seller? Tentu saja jawabannya TIDAK.


Maka bagi yang pernah berkarya namun berhenti di tengah jalan, bisa jadi kehidupan yang dialaminya tersebut sedang berubah. Ia mengalami kemunduran, yaitu berkutat dengan kebutuhan kehidupan manusia yang ada di bawah kebutuhan aktualisasi diri. Apalagi bagi yang sama sekali belum pernah berkarya, bisa jadi perspektif cara pandang pemikirannya hanya berkutat pada pemenuhan kebutuhan kehidupan tingkat dasar saja. Point penting di sini ialah bukan mengenai pengklasifikasian pencapaian seseorang tergolong ke dalam tingkat kebutuhan yang ada di dalam piramida Maslow, namun tentang bagaimana menumbuhkan dan membangkitkan kembali gairah untuk mengaktualisasikan diri. Apakah sebagai manusia hanya cukup pada pemenuhan kebutuhan dasar fisik saja? Lantas apa bedanya manusia yang katanya istimewa karena akal dan pikirannya, dengan makhluk Allah yang lainnya? Menumbuhkan semangat untuk mengaktualisasikan diri sangatlah mudah. Membangkitkan kembali semangat tersebut agak mudah. Menjaga semangat untuk mengaktualisasikan diri itulah yang perlu dijaga. Mari saling menumbuhkan dan membangkitkan semangat agar dapat menjaga setiap motivasi diri untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri.

Karya
Sesekali mencoba berkarya,
seperti menabung,
sedikit – demi sedikit
lama – lama menjadi bukit.
Meski satu buah karya yang dihasilkan,
namu secara rutin dipublikasikan,
lama – lama menjadi gudangnya karya.
(Vivi Sophie Elfada)


Jumat, 12 Agustus 2016

Reward Hanya untuk yang Benar dan Punishment Hanya untuk yang Salah

Reward Hanya untuk yang Benar dan Punishment Hanya untuk yang Salah

Tulisan ini bermula dari pengalaman saya mengajar di dunia nyata dalam kurun waktu satu tahun kurang satu bulan dengan dibandingkan teori yang pernah saya terima dalam sebuah seminar dan sebuah buku yang bersumber dari nara sumber yang sama.

Beberapa tahun yang lalu saya pernah mengikuti seminar seputar pendidikan yang pematerinya merupakan penulis buku terkenal. Saya sendiri sebenarnya belum sempat membaca buku karangannya ketika mengikuti seminar. Namun setelahnya, karena penasaran maka saya meminjam buku karangan beliau di perpustakaan.
Inti pemikiran beliau ialah, hendaknya membiarkan anak dalam melakukan segala hal untuk mengembangkan kreativitasnya. Hindari kalimat "jangan" atau "tidak boleh". Hindari segala bentuk pelarangan apapun. Hindari memarahi, hindari memberikan punishment. Karena menurut pendapat beliau segala bentuk pelarangan tersebut hanya akan dapat menghentikan kreativitasnya, akan membunuh kreativitasnya. Sampai-sampai beliau mencontohkan bahwa siswa yang berlaku tidak rajin, sangat malas sehingga kurang pandai dalam akademiknya karena kemalasannya tersebut, oleh guru dalam cerita ia memuji anak tersebut sehingga logikanya siswa menjadi "malu" dan akhirnya merubah prilakunya menjadi lebih rajin lagi dalam belajar. Contoh tersebut menggambarkan meskipun siswa salah, siswa tetap dipuji agar ia berpikir mengapa guru memujinya padahal ia berbuat salah, maka ia akan malu dan akhirnya berprilaku seperti sesuai dengan pujian dari gurunya. Namun bagaimanakah kenyataan dilapangan jika hal tersebut dilakukan?

Saya telah menerapkan hal yang sama seperti dalam pemikiran teori pengarang buku sekaligus pemateri dalam seminar tersebut dan saya menerapkan pula hal yang berbeda dari buku tersebut di waktu yang tidak bersamaan. Hasilnya, siswa yang dididik dengan mengikuti sepenggal teori buku tersebut seperti menghasilkan produk salah asuh dan hasilnya terlihat jauh berbeda dengan menggunakan cara mendidik yang berlawanan dengan sebagian teori buku tersebut.

Inti dari pengalaman saya yaitu bahwa ketika siswa melakukan hal yang salah, maka katakan salah, dan tidak perlu takut untuk mberikan punishment yang tentunya punishment yang mendidik. Tidak perlu takut untuk mengajarkan kebenaran. Pujian adalah bentuk kecil dari sebuah reward. Jika siswa berbuat salah, maka katakan apa adanya, jangan malah diberikan pujian. Hal ini akan membuat siswa lain kebingungan. Suatu hal yang salah mengapa mendapat pujian atau reward? Jangan sampai karena siswa lain merasa iri terhadap temannya tersebut dan ingin dipuji juga maka ia melakukan kesalahan yang sama dengan temannya. Akhirnya hal ini menjadi peristiwa salah asuh. Ibaratkan siswa yang masih belum memahami mana yang benar dan mana yang salah, guru wajib menunjukkan kebenaran dengan memberikan punishment hanya pada yang salah dan reward hanya kepada yang benar sekalipun reward tersebut hanya berupa pujian.

Ketika saya menerapkan reward dan punishment sesuai dengan haknya, terdapat perbedaan yang besar. Siswa yang diberi reward berupa pujian hanya ketika ia benar dan siswa yang diberi punishmant hanya ketika ia salah membuat mereka lebih berdisiplin dan memahami perbedaan yang jelas antara yang mana yang benar dan salah. Contoh hal yang sederhana yang saya lakukan ialah ketika siswa tidak mengerjakan PR saja dengan siswa yang tidak mengerjakan PR sekaligus terlambat masuk kelas karena bermain diluar kelas diberikan punishment yang berbeda sesuai proporsinya. Misalkan siswa yang tidak mengerjakan PR diberi punishment untuk menulis Q.S. Al-Ikhlas sebanyak satu kali karena hanya satu kesalahan yang ia lakukan. Sedangkan siswa yang tidak mengerjakan PR dan terlambat masuk kelas diberi punishment menulis Q.S Al-Ikhlas sebanyak dua kali karena ia melakukan dua kesalahan. Sedangkan siswa yang mengerjakan PR dan tepat waktu masuk ke dalam kelas diberi apresiasi berupa pujian dan menunjukkan kepada siswa yang melanggar bahwa temannya tersebut adalah contoh yang baik. Setelah saya menerapkan metode tersebut yaitu menempatkan reward dan punishmen sesuai dengan hak proporsinya, terbukti bahwa siswa lebih disiplin dan terdapat prilaku yang lebih baik dari yang sebelumnya.

Mungkin ini bisa menjadi refisi dari sepenggal teori buku yang pernah saya baca. Buku tersebut sebenarnya bagus, namun pada bagian pujian atau reward dan punishment harus tetap ada dan diterapkan sesuai dengan proporsi hakny yang tepat. Karena melalui reward dan punishment secara tidak langsung siswa sedang dididik agar mengetahui dengan jelas tentang perbedaan antara yang mana yang benar dan yang mana yang salah.

Wallahua'lam.

Kesenjangan Sosial

Kesenjangan Sosial

Adanya kesenjangan sosial dan timbulnya rasa iri, hal tersebut adalah karena orang lebih sering menampilkan hasil dari pada prosesnya, atau orang hanya lebih banyak melihat hasil akhir dari pada prosesnya.
Sehingga, mind sett sebagian orang hanya mengeluh "Wah enak banget hidupnya dia, kalau saya ya begini-begini saja."
Padahal proseslah yang penting.
Perbedaan antara satu orang dengan yang lain adalah prosesnya, atau usahanya.
Jangan pernah iri dengan yang lebih di atas dari kita, bisa jadi prosesnya yaitu usahanya dalam meraih sesuatu lebih giat dari pada kita.
Selalu gunakan logika sebab-akibat.
Sebab orang itu rajin, tekun, dan ulet maka akibatnya hidupnya terlihat lebih enak.
Pun sebaliknya, sebab orang itu malas, selalu negative thinking, dan suudzon maka akibatnya di dalam benaknya hidup yang dijalani selalu terasa susah.
Tidak ada usaha yang sia-sia.
Setiap usaha akan membuahkan hasil.
Setiap hasil bergantung dengan niatnya pula.

"Barang siapa yang menginginkan dunia, maka ia akan mendapatkan dunia. Barang siapa yang menginginkan akhirat, maka ia akan mendapatkannya. Dan barang siapa yang menginginkan keduanya, maka ia akan mendapatkan keduanya."

So, ketika rasa iri tiba-tiba menyelimuti kalbu, maka ingatlah bahwa semua hasil yang nampak adalah melalui proses usaha yang lebih keras dari pada kita, hanya saja kita tak pernah tahu bagaimana jerih payah orang lain dalam meraih sesuatu. Maka, usaha yang dilakukan harus lebih keras lagi dari sebelumnya agar dapat mencapai sesuai hasil yang diinginkan. 

Kamis, 11 Agustus 2016

Full Day School

Full Day School

Full day school masih menjadi trending topik, ikutan berpartisipasi aaaah... hehe...

Masalah setuju atau tidak, bebas, namanya juga pendapat.
Tapi, faktanya ialah, setiap fullday school yang saya ketahui, hasilnya itu memang luar biasa bagus.
Contohnya sekolah di daerah Cirebon di dekat tempat saya tinggal dulu sewaktu mencari ilmu di perkuliahan. Antara murid, guru, dengan orang tua memiliki komunikasi yang baik dan lebih memiliki perhatian khusus, rasa kekeluargaannya lebih kental.
Orang tua tidak seenaknya saja menitipkan anaknya di sekolah, namun nyatanya ada jalinan kekeluargaan yang harmonis antara guru dengan orang tua. Orang tua dapat lega menitipkan anaknya untuk di didik pada orang yang tepat. Gurunyapun menyayangi muridnya layaknya anaknya. Dalam acara tertentu, orang tua juga sering dilibatkan, misalkan untuk hadir bersama orang tua dalam event tertentu, ataupun pada hari tertentu diadakan piknik keluarga yang melibatkan interaksi antara murid, orang tua, dan guru.
Lalu bagaimana belajarnya? kasihan otaknya meledak? Mungkin hanya terlalu berlebihan saja dalam menanggapinya bagi yang belum tahu. Setahu saya, ada waktunya istirahat, ada waktunya makan siang bersama, ada waktunya sholat berjamaah, sampai ada waktunya tidur siang, pokoknya murid di fasilitasi senyaman mungkin seperti berada di rumah sendiri. Pengetahuan siswanya oke, hafalan Al-Qur'an murid-muridnya juga diacungi jempol.
Itu gambaran untuk sekolah yang memang sudah di setting full day school, alias sudah siap segalanya. Namun, jika diterapkan serentak seluruhnya, mungkin harus lebih dikaji lagi mengenai kesiapannya, mulai dari fasilitas hingga kesiapan para pendidiknya.

Sepengalaman saya sih, ini mah saya yaa.. Hehe...
Dulu ketika saya SMP, lokasinya cukup jauh dengan rumah. Standarnya sekolah pulang paling lama jam 2 sore. Tapi itu belum cukup, maka saya mengikuti bimbel di salah satu lembaga bimbingan belajar. Pulang sampai rumah kakek bisa sampai Isya (Belum sampai rumah orang tua). Itu juga belum cukup untuk saya, maka di malam hari setelah waktu Isya saya les matematika dengan memanggil guru privat dan belajar di rumah salah satu teman saya yang lokasinya dekat dwngan rumah kakek saya. Pulang dijemput ayah saya sampai rumah sekitar jam 10 hingga 11 malam. Kalau tidak ada PR langsung tidur, kalau masih ada PR langsung dikerjakan. Bukannya bermaksud sombong atau bagaimana, tapi saya terus melakukan aktivitas tersebut karena saya merasa sangat tidak bisanya saya, saya merasa betapa bodohnya saya ketimbang dengan teman-teman lain. Saya hanya murid dari kampung yang sedang menuntut ilmu di kota, dan saya ingin "Bisa!" itu saja. Selama saya menjalani hari-hari itu, ada kalanya terasa lelah.  Tapi otak saya tidak pernah meledak. Justru saya merasa waktu yang diberikan untuk hidup di dunia ini lebih manfaat. Justru saat-saat itu adalah saat-saat yang dirindukan. Merindukan bagaimana semangat,  asyik,  dan nikmatnya belajar. Pun ketika di perkuliahan dengan berbagai tugas, makalah, laporan, yang tidur sampai begadang menyelesaikan segala tugas tersebut menjadi sebuah kerinduan tersendiri. Merindukan nikmatnya belajar. Merasa paling bodoh tapi ingin "Bisa", rasanya ada semangat dorongan tersendiri. Semakin tahu, maka semakin merasa kurang, semakin merasa bahwa ilmu ini luas dan masih banyak lagi yang harus dipelajari.

Mungkin belajar di pesantren lebih dari ini. Mungkin full day school adalah semi atau pertengahan antara sistem sekolah konvensional dengan pesantren. Mungkin pula sistem full day school adalah solusi untuk orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di pesantren namun tetap bisa bertemu setiap harinya. Maybe...

Selasa, 05 Juli 2016

Tampil Cantik Tanpa Melupakan Syariat

Tampil Cantik Tanpa Melupakan Syariat

Hi Readers!
Hari ini H-1 Lebaran Idul Fitri, siapa sih yang ga mau tampil pangling lebih cantik buat ladies? Pastinya semua ingin tampil cantik, bukan?
Atau untuk keperluan sehari-hari ketika berada di out door pastinya ingin selalu tetap cantik, ya khan?

Biasanya ladies ingin tampil lebih cantik dengan cara menggunakan make-up. Poles sana - poles sini, bibir pakai lipstik memerah jadi nambah manis, mata diberi eyeliner, bulu mata diberi maskara, alis diberi sentuhan pensil alis, muka diberi bedak dan semacamnya.
Iya sih ya cantik, tapi apakah ladies memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan sempurnanya melaksanakan ibadah? Loh? maksudnya? Bingung? Penasaran? Yuk simaka beberapa hal berikut:

1. Pilihlah make-up yang mudah dibersihkan

Ladies, jaman sekarang banyak make-up yang menawarkan tahan lama sampai water proof alias tahan air, meskipun kena air tapi make-up ladies tetap menempel.
Iya sih oke, tapi kepikiran ga sih ketika kita ingin sholat? Sebelum sholat, kita harus berwudlu terlebih dahulu untuk menghilangkan hadast kecil kita. Sebaiknya bersihkan dulu muka kita dari make-up kemudian baru berwudlu agar wudlu kita sempurna. Jika make-up kita belum benar-benar bersih dan ketika berwudlu masih ada make-up yang menempel, maka tidak sempurna wudlunya, karena permukaan kulitmu tertutup make-up.
Hayo pilih mana? maksain tampil cantik atau menyempurnakan wudlu sehingga sempurnalah ibadah kita?
Ingat! Amalan yang pertama ditanyakan nanti di akhirat adalah sholat ya ladies!
Jangan takut ketika make-up luntur maka cantiknya juga luntur.
FYI(For Your Information) y ladies, terdapat pancaran cantik yang berbeda loh antara ladies yang suka berwudlu dengan yang tidak. Yang mukanya masih tertutupi make-up tebal ketika berwudlu, maka wudlunya tidak sempurna sama saja tidak berwudlu, karena aliran air tidak melewati permukaan kulit muka. Bagi yang peka, pokonya muka ladies kalau sering terkena air wudlu itu cantiknya istimewa deh.

2. Hindari Pewarna Kuku Sintetis

Ladies, kuku diwarnai boleh saja. Namun pakailah pewarna alami dan aman seperti pacar kuku alami. Hindarilah pewarna kuku sintetis atau kutek yang dapat menutupi permukaan kuku sehingga menyebabkan aliran air ketika berwudlu tidak bisa melewati permukaan kuku. Jika ketika berwudlu kuku kita tidak terkena aliran air, maka tidak sempurnalah wudlu kita. So, sholat kita juga tidak sempurna. Boleh saja kita memakai kutek, asal bersihkan terlebih dahulu sampai benar-benar bersih. Atau ladies bisa menggunakan kutek ketika sedang haid. Cantik yes, tapi perempuan yang memperhatikan sholatnya lebih cantik lagi, yakini hal tersebut ya ladies.

3. Mau Mencukur Alis? Berarti Siap Dilaknat Allah

Ladies, kita hidup di dunia ini karena Allah yang menciptakan kita. Maka sudah sepatutnya kita mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Allah melarang ladies mencukur alis. Allah akan melaknat orang yang mencukur alisnya. Ih serem ya? Jadi masih mau bela-belain mencukur alis hanya demi cantik di dunia yang sesaat dan mengorbankan diri dilaknat oleh Pencipta kita? Cerdaslah dalam memilih pilihan yang baik ya ladies. Semoga kita tetap mematuhi perintah Allah. Aamiin.

Tampil cantik adalah dambaan setiap perempuan. Cantik juga tidak asal cantik, tapi cantiklah yang smart. Smart memilih langkah-langkah perawatan kecantikan yang sesuai dengan syariat. Jadi, pilih mana ladies? Asal Cantik? atau Cantik Smart? Cantik Smart dong ya tentunya? Karena kita hidup tidak hanya di dunia, namun kehidupan di dunia ini adalah jembatan menuju akhirat yang abadi. Ingin kehidupan yang baik atau buruk nanti di akhirat, maka tentukan jembatanmu ketika di dunia. Jika ingin kehidupan yang baik di akhirat, maka sebelumnya ladies harus memilih jembatan yang baik pula ketika masih di dunia.
Sekian bahasan hari ini, semoga beanfaat ya ladies, and readers..
Meskipun bacaan ini bertema ladies, bagi para lelaki juga bisa ikut membaca untuk saling mengingatkan.

#ForReaders

Minggu, 03 Juli 2016

Tips Agar Tetap Menjaga Sholatmu di Tengah Suasana Ramai

Tips Agar Tetap Menjaga Sholatmu di Tengah Suasana Ramai

Hi readers...
Bulan ini adalah Bulan Ramadhan. Masih berpuasa, bukan?
Biasanya banyak undangan buka puasa bersama, nih. Undangan mulai dari keluarga, perkumpulan rekan kerjamu, teman-teman sekolahmu sekalian menjadi ajang reuni.
Pasti readers senang bukan, bisa bertemu dan semakin banyak bersilaturrahim?

Oke, euforia atau perasaan senang akan ada acara berbuka puasa bersama sekalian menjadi ajang reuni tersebut jangan sampai membuat kita terlena sehingga lalai dengan kewajiban kita.
Kewajiban kita yang pertama dan termasuk amalan yang akan ditanyakan pertama kali pada saat hari perhitungan ialah "sholat".
Berkaitan dengan itu, saya akan memberikan beberapa tips agar sholatmu tetap terjaga. Yuk Simak!

1. Bagi Perempuan, Bawa Mukenahmu

Bagi yang perempuan, jika pakaianmu tidak memungkinkan untuk langsung melaksanakan sholat, dan masih ada bagian tubuh yang harus ditutupi agar auratmu tertutup sempurna, maka jangan pernah melupakan membawa mukenah ya.
Beli baju ratusan ribu bisa, bahkan ada yang seperempat juta, setengah juta, hingga sejuta bahkan lebihpun bisa membelinya dan banggaa jika mengenakannya kemana-mana, masa membawa mukenah saja malu lah?ribet lah?
Jangan pernah mengandalkan orang lain untuk meminjam mukenah, karena belum tentu orang lain membawanya. Kalau satupun tak ada yang membawa, lantas menjadi alasan untuk tidak sholat? Situasi yang begini yang harusnya membuat diri malu karena hal tersebut memang benar-benar memalukan.
So, malulah pada tempatnya. Jangan sampai gara-gara takut dibilang ribed lah, takut dikatakan sok suci lah, terus ga perlu bawa mukenah? Hal yang begini nih yang menjadi penyakit, just be your self, yakinilah dan percaya dirilah untuk melakukan hal-hal yang benar sesuai syariat. Atau bila perlu gunakanlah pakaian yang menutupi seluruh auratmu dan dapat memungkinkan melaksanakan sholat tanpa harus mengenakan mukenah, itu solusi yang paling praktis. Fungsi mukenah apa sih? Yups, hanya untuk menutupi auratmu yang masih terbuka. Jika pakaianmu sudah bisa menutupinua, tidak mengenakan mukenahpun tak apa-apa. Seperti para lelaki, yang ketika ingin sholat ya langsung sholat saja, tak mengenakan atribut tambahan apapun selagi auratnya masih tertutup.

2. Ingat Waktu

Alhamdulillah adzan maghrib berkumandang, saatnya berbuka puasa sambil berbincang seru dengan teman-teman.
Eits, berbincang boleh saja, lama-lama keasyikkan tau-tau sudah mau masuk waktu isya? Wah gawat, jangan sampai begitu ya?
Boleh saja berbincang, tapi jangan melupakan waktu ya. Utamakan terlebih dahulu melaksanakan sholat. Sholat maghrib berapa menit sih? Sholat Maghrib ga akan sampai satu jam khan? Sholat dulu biar tenang, baru lanjut berbincang. Bila perlu dalam perbincangan, kita yang mengingatkan untuk sholat, syukur-syukur Allah berikan bonus pahala untuk kita karena telah mengingatkan. Aamiin.
Bagi perempuan yang sedang haid, tidak apa-apa tetap mengingatkan juga ya, dan tetap PD untuk melantangkan kebenaran. Jika ada temanmu yang tidak terima ketika diingatkan bahkan seorang lelaki, "Ngaca dulu loe, elo sendiri kaga sholat! Gue kaga ngingetin orang-orang lantaran gue sendiri belum sholat!" bersabarlah dalam menghadapi orang yang demikian ya. Tak apa, jelaskan secara lantang bahwa sedang haid. Justru mengingatkan adalah suatu hal yang wajib, terlebih lagi di sekeliling sedang lalai karena terlena dengan nikmatnya duniawi yang fana. Untuk urusan melaksanakan atau tidak, itu menjadi pilihan orang yang diingatkan, dan dosa ditanggung masing-masing, yang penting kita sudah mengingatkan.

3. Just Be Your Self

Just be your self, jadilah diri sendiri, percaya dirilah untuk melantangkan kebenaran.
Yups, hal ini yang ga kalah penting. Ketika kita PD, maka ucapan apapun dari luar yang dapat menggoyahkan bahkan merusak akidah kita, tidak akan mempan jika kita sudah benar-benar PD melantangkan kebenaran. Jangan pernah goyah dengan ucapan orang lain. Terbang ketika dipuji dan terpuruk saat dicaci, waduh kalau begini berarti sudah ikhlas belum ya untuk melaksanakan ibadah?
Omongan apapun, kalau ada yang berkomentar sok suci lah atau apa sehala macam, sudah tidak usah di dengar. Berpura-pura tulilah dalam keadaan demikian. Jika waktunya sholat, ya sudah sholat saja langsung. Jika sudah diajak tidak mau dan justru mengolok-olok yang mengingatkan, ya sudah tinggalkan saja orang yang seperti itu. Ingat, dosa ditanggung masing-masing, jadi PD saja tetap laksanakan sholat, tak usah meragu karena guncangan dari luar sekalipun dari temanmu sendiri.

Oke readers, sekian tips dari saya. Semoga kita selalu dapat menjaga sholat kita ya...
Semoga kita bisa Khusnul Khotimah, mendapatkan akhir yang baik. Aamiin..

#ForReaders

Jumat, 17 Juni 2016

Pekerjaan yang Dianggap Orang Paling Mudah dan Realitanya: Guru

Pekerjaan yang Dianggap Orang Paling Mudah dan Realitanya: Guru

Readers..
Kali ini kita bahas tentang pekerjaan yang dianggap orang paling mudah dijalani dengan realitanya yuk!
Pasti pada penasaran khan?
Yuk kita simak...

Pekerjaan apa di dunia ini  yang paling mudah dikerjain dan diminati?

GURU?

Kalau yang paling diminati sih, iya kali ya?
Karena banyak orang yang berbondong-bondong ingin menjadi guru apalagi ketika jaman doeloe, banyak banget yang kuliah keguruan dadakan, alias yang tadinya jurusan apa, tinggal kuliah akta empat terus jadi guru deh.
Alesannya sih klasik, karena jadi guru tuh kerjaan yang paling gampang dilakuin.

Oh ya?

That is bullshit!

Kok gitu?

Ya iya lah, di dunia ini ga ada yang gampang gitu aja tanpa ada yang namanya usaha.

Pengen dapet uang banyak, tapi usahanya sedikit?

Cuma di mimpi kali ya?

Mau PNS, mau honorer, ketika menjadi guru, ya berarti beban kerjanya sama-sama menjadi guru.
Ketika ada yang harus diselesaikan sampai begadang, ya begadang. Bahkan guru itu paling kompleks pekerjaannya.

Bayangkan saja, pagi sampai sore mengajar di sekolah, berarti pulang sampai rumah itu sore ya?

Apa di pikir pulang itu bisa santai gitu aja?

Masih banyak kerjaan koreksian tugas siswa, PR, sampe ulangan, belum dikalikan dengan siswanya. Misalkan satu kelas ada 40 siswa, ceritanya kelas gemuk yaa.. guru mengajar 5 kelas, 40x5=? ayo berapa? 200! Berarti kalau setiap hari ada tugas, setiap hari guru mengoreksi 200 tugas, belum lagi kalau ada PR, belum lagi dengan ulangan. Belum lagi kalau sudah masuk semester akhir, input nilai raport segala macam. Apalagi dengan kurikulum 2013 yang mampu mengembangkan penilaian terhadap siswa itu bukan hanya aspek kognitifnya saja, tapi juga aspek spiritual dan keterampilannya, dan penilaiannya pun dilakukan secara berkala setiap pertemuan bahkan bisa setiap hari, setiap saat, karena dengan adanya aspek spiritual dan keterampilan itu. Bingung ya maksudnya apa? Sama saya juga bingung, tapi waktu doeloe sebelum mengikuti pelatihan. So, bagian ini pelajari sendiri saja ya bagaimana seluk beluk kurikulum 2013. hehe..

Kalau sore masih mengurusi nilai, terus lanjut sampai malamnya, guru mempersiapkan perangkat mengajar untuk pembelajaran esok harinya. Kebayang khan dari sini? waktu pagi, siang sampai malam terpakai semua untuk urusan sekolah?

Lah terus kapan ngurusin rumahnya? gimana masak, nyuci, ngurusin anak&suaminya?
itu yang perempuan ya..hehe..
kapan waktu istirahatnya?
anak orang diurus dan di didik, anak sendiri gimana?

Iya ya gimana? Pusing juga ya?
Ya itulah resikonya. Ketika sudah memutuskan menjadi apa, harus sudah siap segala konsekuensinya.
Insya Allah waktu di dunianya berkah, ga ada waktu yang kebuang sia-sia.

Lah wong saya mau jadi guru karena paling gampang kerjanya! Ha..hah..situ protes? sama siapa ya? pada rumput yang bergoyang?
Makannya jangan jadi guru kalau ga siap dengan tanggungan pekerjaan menjadi guru. Toh lagian, pekerjaan apapun itu sama saja, sama-sama butuh usaha dan kerja keras, ga ada yang santai.

Kalau ada yang bilang:
"Ga ah aku mah santai jadi guru teh."
Ah paling situ kerjanya saking semangatnya, ditekuni dan dinikmati jadi ga berasa beban, karena udah jadi kewajiban profesi. "Ah engga, aku emang santai kok."
Oh mungkin karena sudah terbiasa menjalani menjadi guru, jadi sudah mahir membagi waktu.
"Eh dibilangin beneran santai, malah ga percaya aja?"
Loh kok bisa ya? Kalau gitu situ guru macam apaan ya? Ngajarnya cuma satu siswa ya? Hayo ngaku?
-Hening-

Ini bukan postingan mengeluh ya, tapi saya greget aja sama paradigma di sekitar yang berkembang, yang terkadang juga mempengaruhi pemikiran.

Kerjaan guru dibilang orang awam yang ga menjalaninya "gampang" terus dapat uang banyak jadi PNS lagi.
Tapi sekarang realitanya sudah tau sendiri khan dengan sepenggal beban kerja yang diceritakan di atas?
Proses menjadi PNS itu ga gampang, penuh dengan usaha kerja keras. Bisa jadi itu bonus dari Allah atas kerja keras dan rasa ikhlas menjadi seorang guru yang membimbing dan mendidik muridnya.
Tapi ada aja ya oknum yang mungkin iri dikiranya melihat beban kerjanya kurang, sehingga jaman sekarang makin nambah tuntutan ini itu, mengumpulkan ini itu. Ya wajarlah ya, yang membuat peraturan mungkin belum pernah menjalani aturan tersebut, secara teoritis mudah, tapi realitanya kadang diabaikan.

Bagi yang menjalaninya,  terutama yang honorer, termasuk saya, hehe..
Iya sih, ada aja ngeluh, beban kerja sama tapi penghasilan beda sama senior.
Yoi, baiknya ngaca dulu ya?hehe..
Sekali lagi perjuangan, kita yang ga menjalani kehidupan para senior tinggal enak menikmati melihat kenyamanan hidupnya sekarang tanpa tau tanpa bisa melihat bagaiman perjuangan susah payah mereka di masa lalu.
Iri dengki, biasalah sifat manusia ya, kadang khilaf.hehe..
Lihat orang lain enak, aku kok ga gitu?
Coba kalau menengok bagaimana awal masa perjuangannya, bagaimana susah payahnya, mungkin kita lebih dimudahkan kehidupannya dan harusnya banyak-banyak bersyukur kepada Allah.
Iya sih, sekarang lagi insyaf, masih bulan Ramadhan, besok-besok bergaul dengan pengeluh, kumat lagi ikut-ikutanengeluh dan iri?
Jangan lah ya?hehe..
Semoga Allah selalu membimbing kita.. Aamiin..

Satu lagi, saya juga paling greget kalau ketemu dengan yang bukan seprofesi, senasib, sepenanggungan, dibilang sok sibuk padahal cuma honorer.
Iya sih, sok sibuk apa ya? Ga sibuk kok, lihat aja beban kerja sebagai guru itu gimana. Sama ga sama kerjaan mu?
"Iya ya, Aku kira guru tuh cuma ngajar doang, ya udah kelar."
So, kita semua ga perlu men-judge siapapun dengan pekerjaannya, dengan bagaimanapun derajat jabatannya, dengan berapapun penghasilannya.
Ngapain kita malu dengan pengasilan, derajat yang serendah apapun, yang penting barokah dan berkecukupan. Cukupkanlah kewajiban kita dalam bekerja, maka Allah akan cukupkan kebutuhan kita, entah dari pintu-pintu rizqi manapun itu yang Allah sukai dan ternyata tak kita sangka-sangka.

Begitupun kalau sudah berada di atas, nih biasanya kalau yang ini ujiannya lebih berat karena bersifat laten, alias tersembunyi.
Kita kebablasan dengan kenikmatan kehidupan yang diperolah, ga berasa tau-tau udah jadi orang sombong, tau-tau tega merendahkan orang lain. Semoga kita ga begitu ya,  kalaupun udah terlanjur, semoga kita segera sadar dan diampuni Allah.. Aamiin..

Kesimpulannya, ga ada pekerjaan yang mudah dijalani gitu aja seperti orang membalikkan telapak tangan, tapi pekerjaan apapun itu penuh perjuangan. Semoga setiap pekerjaan kita bisa berkah, Aamiin...
Sampai jumpa lagi readers...
Sekian untuk hari ini...
#ForReaders

Sabtu, 28 Mei 2016

BUNYI



BUNYI

Assalamu’alaikum... Murid-murid, berjumpa lagi dengan cikgu kali ini dalam episode baru, yaitu episode bunyi. Sebenarnya apakah bunyi itu? Episode lalu kita telah membahas getaran dan gelombang. Ketika senar gitar digetarkan, maka akan terdengar bunyi. Maka bunyi termasuk ke dalam getaran. Bunyi juga tergolong ke dalam gelombang mekanik, yaitu gelombang yang memerlukan medium atau perantara dalam perambatannya.
Jika bunyi memerlukan perantara dalam perambatannya, maka apakah adah syarat agar bunyi dapat terdengar oleh telinga? Ya, tentu saja ada syaratnya. Penasaran apa saja? Yuk perhatikan cikgu! Ada yang pernah mencoba memetik senar gitar? Ketika senar gitar digetarkan, apakah ada bunyi yang terdengar? Berarti, syarat pertama ialah benda yang bergetar dapat menghasilkan bunyi, atau benda tersebut disebut juga sumber bunyi.
Sampai di sini apakah sudah paham murid-murid? Kita lanjut ya, kemudian apa lagi syaratnya? Ketika temanmu sedang memainkan gitar di dalam kelas, kemudian kamu berada di depan gerbang kelas, apakah bunyi gitar dapat terdengar di telingamu? Bandingkan jika kamu berada di sebelah temanmu yang sedang memainkan gitar, tentu bunyi gitar akan jelas terdengar, bukan? Maka syarat yang kedua ialah adanya orang yang mendengar bunyi atau  penerima yang berada di dekat sumber bunyi.
Kemudian syarat ketiga agar bunyi dapat terdengar di telinga ialah adanya perantara yang mampu merambatkan bunyi. Maksud perantara untuk merambatkan bunyi itu apa? Maksudnya, jika tidak ada perantara untuk merambatkan bunyi, maka bunyi tidak akan terdengar di telinga. Contoh perantara atau medium rambat bunyi ialah udara. Jika kamu berada tempat hampa udara, maka tidak akan ada bunyi yang dapat terdengar sampai telingamu.
Apakah syarat bunyi dapat terdengar di telinga hanya tiga hal yang ada di atas? Tentu masih ada lagi. Apakah setiap bunyi dapat terdengar oleh telingamu? Lalu bagaimana jika ada bunyi yang sangat kecil, apakah masih bisa terdengar di telingamu? Tentu tidak semua bunyi dapat didengar oleh telinga manusia. Bunyi yang dapat terdengar di telinga manusia disebut Audiosonik. Bunyi audiosonik berkisar antara 20 Hz – 20.000 Hz, maka jika bunyi yang kurang dari kisaran tersebut atau lebih dari kisaran tersebut tidak dapat terdengar oleh teling manusia. Apabila bunyi yang dihasilkan kurang dari 20 Hz  disebut Infrasonik. Sedangkan bunyi yang lebih dari 20.000 Hz disebut Ultrasonik.
Sampai di sini, apakah sudah semakin paham dengan yang disebut bunyi? Semoga semakin paham ya. Sekarang cikgu ingin bertanya, adakah murid-murid yang pernah pergi ke pegunungan di sekitar tebing? Pernahkah berteriak di tempat tersebut? Bagaimanakah bunyi yang terdengar? Lalu pernahkah kamu berada di dalam ruang kosong sambil berteriak? Bagaimana bunyi teriakanmu yang terdengar? Ketika kamu berada di pegunungan sekitar tebing kemudian berteriak, maka suara tiruanmu akan terdengar kembali setelah suara aslimu hilang. Suara atau bunyi yang terdengar setelah bunyi aslinya disebut gema. Gema dapat terjadi karena bidang pantul yang dapat memantulkan bunyi berada cukup jauh dari sumber bunyi.
Jika kamu berteriak di dalam ruang kosong, maka akan ada suara tiruanmu yang terdengar sebelum suara aslimu berhenti. Peristiwa ini disebut gaung, yaitu bunyi yang terdengar sebelum bunyi asli hilang. Maka, gaung terdengar kurang jelas terdengar karena saling bersahutan dengan bunyi aslinya. Gaung terjadi karena bidang pantul yang memantulkan bunyi berada di dekat sumber bunyi. Maka bunyi gaung dapat dikatakan pula lebih cepat terjadi dibandingkan bunyi gema.
Murid-murid, sekarang kita telah mengetahui bahwa bunyi dapat dipantulkan. Peristiwa pemantulan bunyi ini oleh para ilmuwan dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan manusia. Apa sajakah manfaatnya? Yuk kita simak! 1) Pemantulan bunyi dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi benda-benda di dalam laut; 2) melihat detak jantung dengan adanya alat electrodiagram; 3) membantu proses USG (ultrasonografi).
Apakah manfaat dari pemantulan bunyi hanya ada tiga? Tentu tidak, masih banyak lagi manfaat yang lainnya, salah satunya ialah pemantulan bunyi dapat dimanfaatkan untuk mengukur kedalaman air laut. Hal ini dapat terjadi ketika sebuah kapal yang dilengkapi alat khusus sehingga memancarkan ultrasonik dari dalam kapal ke dasar laut. Maka dasar laut akan memantulkan gelombang ultrasonik tersebut yang akhirnya diterima kembali oleh alat penerima dalam kapal. Akibat adanya pemanfaatan bunyi pantul ini, maka kedalman laut dapat diukur dengan rumus:


 Murid-murid, sekarang kita coba kerjakan contoh soal tentang kedalaman laut yuk! Perhatikan soal dibawah ini ya, jangan lupa siapkan alat tulismu untuk menulis soalnya dan menjawabnya.
Kedalaman laut diukur oleh sebuah kapal dengan alat khusus. Bunyi ditembakkan ke dasar perairan, lalu 4 detik kemudian bunyi pantul tiba kembali di kapal. Apabila cepat rambat bunyi di dalam kapal adalah 2000 m/s, tentukanlah kedalaman laut!
Diketahui     : t = 4 s
v = 2000 m/s
Ditanyakan : l = ?
Jawab          :

                Murid-murid, sekarang sudah lebih paham khan tentang materi bunyi? Semoga penjelasan dari cikgu bermanfaat ya. Ikuti terus blog ini, sampai jumpa di episode selanjutnya, InsyaAllah...

#UntukMuridku

Jumat, 27 Mei 2016

GELOMBANG



GELOMBANG

Assalamu’alaikum... Murid-murid, bertemu lagi dengan cikgu diepisode baru yaitu gelombang.episode lalu kita telah membahas getaran dan sedikit membahas pngertian gelombang. Oke, karena itu langsung saja kita bahas rumus dan contoh soalnya. Siapkan alat tulismu terlebih dahulu, seperti buku tulis dan pulpen. Yuk simak penjelasan cikgu!
 
Rumus di atas untuk mengetahui panjang gelombang atau cepat rambat suatu gelombang. Biasanya murid-murid bingung dengan cara membaca tanda baru seperti ini λ. Tanda λ dibaca “lambda”. Lalu bagaimana jika yang ditanyakan adalah λ (panjang gelombang)? Jika murid-murid masih ada yang bingung bagaimana membolak-balikkan rumus, maka cikgu punya solusinya. Buatlah segitiga pintar seperti ini:

 Lalu bagaimana cara menggunakan segi tiga pintar di atas? Tutuplah salah satu lambang rumus yang ditanyakan pada soal. Apabila lambang rumus yang terbuka berdampingan kanan dan kiri, maka dikalikan. Jika posisi lambang rumus berada di atas dan bawah, maka dibagi. Misalkan jika yang ditanyakan adalah λ (panjang gelombang), maka tutuplah lambang λ. Kemudian yang terlihat adalah lambang v di atas dan lambang f di bawah, hal ini berarti λ = v : f. Jika yang ditanyakan ialah v (kecepatan gelombang), maka tutuplah lambang v. Kemudian lambang yang terlihat adalah λ di sebelah kiri dan f di sebelah kanan, hal ini berarti v = λ . f
Baiklah, langsung saja pada contoh soal. Cikgu akan memberikan soal dengan gambarnya, maka silahkan murid-murid gambar juga pada bukumu ya. Perhatikan soal berikut:
 




Perhatikan gambar di atas! Apabila periode 2 s, maka berapakah cepat rambat gelombang dari gambar tersebut?

Adakah yang sudah bisa menjawab soal di atas? Jika ada yang masih bingung, cikgu jelaskan dulu ya. Perlu diketahui, 1 gelombang terdiri dari 1 bukit dan 1 lembah.
1 gelombang = 1 bukit + 1 lembah

Pada gambar dari soal di atas terdiri dari 2 bukit dan 1 lembah, perhatikan gambar berikut:

 Pada gambar soal di atas, karena terdiri dari 2 bukit dan 1 lembah, maka gelombang yang terjadi ialah sebanyak 1,5 gelombang.
2 bukit + 1 lembah = 1,5 gelombang
Kemudian pada gambar di soal, angka 6 m menunjukkan panjang 1 gelombang, yaitu 1 lembah dan 1 bukit. Maka jika diperjelas, panjang 1 bukit ialah 3 cm dan panjang 1 bukit ialah 3cm. Sehingga apabila gelombang yang terbentuk dari dua bukit dan satu lembah memiliki panjang gelombang sebesar 9 m. Agar lebih jelas, perhatikan gambar berikut:



Berdasarkan gambar di atas, maka dapat diketahui bahwa besar λ ialah sebagai berikut:
 
 Karena semuanya sudah lengkap untuk rumus yang diketahuinya, sekarang mari kita simak cara menyelesaikan soalnya. Perhatikan penjelasan berikut:










 













Jadi, v (cepat rambat gelombang) dari gambar pada soal ialah sebesar 3 m/s.

Bagaimana murid-murid, sudah lebih paham bukan tentang materi gelombang? Semoga bermanfaat ya. Ikuti terus blog cikgu ini, kita bertemu lagi pada episode selanjutnya, InsyaAllah....

#UntukMuridku